Kembalilah ke Tanah Air!


Agama Sekuler dan Agama Sakral
Agustus 30, 2008, 12:46 pm
Filed under: Kajian

Prolog

Pemikiran sekuler semakin berkembang di tanah air. Sejumlah kelompok agama bermunculan untuk mengkaji terminologi sekuler yang selalu dikaitkan dengan nilai-nilai kesakralan agama. Wacana sekuler menjadi pembahasan yang semakin menarik di kalangan para pemikir dan sarjana. Sebab, sekuler selalu dilawankan dengan agama. Berbagai definisi sekuler dan agama disodorkan untuk menyelesaikan pertikaian keduanya, akan tetapi hasilnya tetap menimbulkan putusan ekstrim, baik terlalu cenderung ke kanan, maupun ke kiri. Pada saat yang sama, terdapat sederet upaya untuk mengimbuhkan (mengadjektifkan) sekuler pada agama.  “Agama sekuler” dijadikan sebagai solusi alternatif dalam menyelesaikan konfrontasi antara agama dan sekuler. Sekuler dan agama tidak lagi dikaji secara terpisah. Oleh karena itu, agama sekuler diharapkan akan mampu mengakhiri polemik ekstrim yang ada.

Tentu saja, sebelum membahas wacana agama sekuler, terlebih dahulu kita harus memahami sederet istilah yang tersaji dalam bentuk pertanyaan berikut. Apakah agama itu? Apakah pula sekuler itu? Apakah antara agama dan sekuler masing masing mempunyai substansi yang berdekatan? Apakah mungkin sekuler diimbuhkan pada agama? Jawaban atas sederet pertanyaan tersebut adalah kunci bagi pemahaman kita mengenai pertikaian antara agama dan sekuler.

 

Agama

Di sini, kita batasi pemahaman agama pada “agama langit”. Agama langit juga biasa disebut dengan istilah agama “Ibrahimi”, yakni agama yang diwariskan oleh Nabi Ibrahim as. Jadi, dalam pembahasan berikutnya, kata agama merujuk kepada pemahaman tadi. Dalam kontekss agama langit, agama adalah sekumpulan perintah dan larangan Tuhan atau utusan-Nya yang bermuara pada sebuah keyakinan.

Penjelasan singkat di atas memberikan pengertian bahwa agama terdiri dari dua unsur, yakni perbuatan dalam konteks ”boleh dan tidak boleh” dan keyakinan dalam konteks “ada dan tidak ada”. Dua unsur tersebut membentuk keutuhan agama.

 

Sekuler, Sekulerisme dan Sekulerisasi

Apakah sekuler? Kata sekuler bisa dipahami sebagai kata sifat atau kata benda. Sekuler dalam konteks kata sifat adalah sesuatu yang terkait dengan dunia atau duniawi, sedangkan sekuler dalam konteks kata benda mempunyai arti masa atau periode panjang.[1]

Sekuler  dalam sudut pandang wacana kekinian dipahami sebagai kata sifat. Sekuler adalah sesuatu yang terkait dengan dunia dan sama sekali tidak bersentuhan dengan unsur agama dan tradisi. Sebagaimana disinggung Luke Ebersol, sekuler dalam konteks ilmu sosial adalah sesuatu yang hanya terkait dengan dunia, dan karenanya, bertentangan dengan unsur spritual. Ia juga menambahkan, sekuler tidak hanya bertentangan dengan unsur spritual, tapi juga berseberangan dengan kesakralan. Pernyataan kedua Ebersol ini mendukung Howard Becker dalam memandang pengertian sekuler. Howard Becker mengatakan, “Sekuler mencakup pengertian tidak sakral, kafir, tidak bertuhan, tidak beragama, tidak beriman dan lain-lain. Akan tetapi, makna setiap kata tadi tidak bisa dijadikan sebagai sinonim satu sama lain”.

Ia menyatakan secara tegas, bahwa sekuler berlawanan dengan semua unsur sakral. Oleh karena itu, masih menurut Howard, segala bentuk budaya yang bernuansa sekuler selalu lebih cenderung pada basis kapital.[2]

Terminologi sekuler berbeda dengan sekulerisme. Terminologi sekulerisme sudah dipahami sebagai sistem yang berbasis pada filsafat atau sosial. Pengetian sekulerisme tetap tidak meninggalkan warna aslinya yang selalu mengarah pada “murni dunia” atau berseberangan dengan unsur-unsur agama[3]. George Jacob Helyoake mengatakan, sekulerisme adalah sebuah pergerakan yang bertujuan untuk membentuk perilaku manusia yang tidak mempedulikan Tuhan dan akherat[4]. Sepanjang sejarah, antara agama dan sekulerisme masing-masing saling bertentangan satu dengan yang lainnya. Pertentangan tersebut semakin meningkat setelah tibanya Renaissance. Perkembangan agama diidentikkan dengan kehancuran sekulerisme dan perkembangan sekulerisme diidentikkan dengan kehancuran agama[5]. Brain Roulson juga menegaskan, sekulerisme adalah sebuah ideologi yang menolak segala unsur metafisik serta memposisikan nonagama sebagai landasan perilaku individu dan sosial[6].

Penjelasan atas pengertian sekulerisme dapat disimpulkan melalui kalimat  berikut. Seorang sekuler dengan lantang akan menyatakan bahwa Tuhan atau agama tidak ada. Seandainyapun Tuhan atau agama itu diasumsikan ada, keduanya dipastikan tidak dapat berperan dalam menangani kehidupan manusia, baik dari sisi teoritis maupun dari sisi praktis (fudzuluun mutawaqifun).

 Di samping sekuler dan sekulerisme, terdapat pengertian lain yang masih berada dalam satu rangkaian kata keduanya, yaitu sekulerisasi. Pengertian sekulerisasi berbeda dengan sekuler dan sekulerisme. Sekulerisasi juga tidak meninggalkan makna asli sekuler. Sekulerisasi secara bahasa dan istilah mempunyai makna yang sama. Sekulerisasi adalah mengarahkan segala sesuatu menuju dunia atau menduniakan.  Muhammad Nagib Alatas mengatakan, sekulerisasi adalah pelepasan pandangan manusia yang diserap dari sumber agama atau semi agama[7].

Pada konteks kekinian, sekulerisasi mempunyai tiga makna yakni politik, epistemologis, dan personal. Sekulerisasi dalam konteks politik adalah pemerintahan yang sama sekali tidak melibatkan agama dalam penyusunan undang-undang. Sekulerisasi dalam konteks epistomologi adalah penolakan unsur Tuhan dan agama dalam memandang dunia. Tuhan tidak diyakini sebagai realitas yang konkrit. Sementara itu, agama tidak lagi dipahami sebagai ajaran yang menghantarkan manusia pada realitas, namun diasumsikan sebagai fenomena alam fisik. Oleh karena itu, agama hanya dianggap merupakan konskuensi hasil eksperimen. Adapun, sekulerisasi dalam konteks personal adalah perilaku individu yang tidak memperhatikan ajaran-ajaran agama.

 

Agama Sekuler

Setelah menyelusuri pengertian sekuler, muncul sebuah pertanyaan, “Apakah mungkin sekuler diimbuhkan pada agama?”. Menurut ilmu logika, pengimbuhan term pada term yang lain dapat terealisasi dalam koridor adanya keseragaman kedua term tersebut. Akan tetapi, menurut penjelasan yang sudah lewat, antara agama dan sekuler masing-masing tidak mempunyai titik temu, sehingga sekuler tidak dapat diimbuhkan pada agama.

Oleh karena itu, para sarjana sekuleris berusaha keras untuk mensekulerisasikan agama dengan cara merivisi norma-norma sakral. Upaya maksimal dikerahkan untuk menggabungkan antara agama dan sekuler yang sebelumnya diasumsikan kontradiktif satu sama lain. Revisi ulang norma-norma merupakan solusi terbaik untuk mengakurkan perseteruan antara agama dan sekuler. Langkah merevisi agama oleh para sarjana sekuler telah menyebabkan hadirnya sekuler dalam tubuh agama. Sekelompok sekuleris juga tidak segan untuk menyebut agama, Tuhan, kemenangan, taubat, dosa, hari akhir dan lain-lain. Namun, semua itu dipahami dengan substansi yang berbeda. Agama sekuler sudah menjadi bagian dari agama, bahkan bisa dijadikan sebagai madzhab resmi agama. Sekuler bukan lagi dijadikan musuh agama, melainkan dianggap sebagai sahabat yang ikut meramaikan wacana keagamaan.

 

Kemunculan Agama

Upaya yang sudah dilakukan oleh para sarjana sekuleris adalah sekulerisasi kemunculan agama. Kondisi budaya, politik, dan ekonomi dijadikan faktor utama munculnya agama. Agama merupakan murni produk manusia yang telah membentuk kondisi. Pada akhirnya, agama mempunyai keterbatasan aspek sejarah dan budaya yang sama sekali tidak mencerminkan kesempurnaan hakekat. Peran langit dalam agama sama sekali tidak ada. Di samping itu, agama sekuler menerima perubahan unsur-unsur agama secara mendasar. Keseluruhan struktur agama adalah sesuatu yang bukan abadi. Simpulan ini merupakan konskuensi pemahaman agama yang berasal dari faktor individu dan sosial[8].

Sebaliknya, agama sakral memandang bahwa agama berasal dari fitrah manusia. Fitrah manusia merupakan struktur eksistensi manusia yang sebelumnya mengenal Tuhan dan senantiasa mencari-Nya[9].

Pandangan agama sakral tersebut selaras dengan argumentasi filsafat. Menurut filsafat, manusia sebagai makhluk mempunyai ilmu “hudhuri” dalam mengenal Tuhannya, karena ilmu manusia yang mempunyai posisi sebagai “akibat” senantiasa berada dalam gradasi ilmu Tuhan yang mempunyai posisi sebagai “sebab”. Di samping itu, sebab selalu mencakup eksistensi akibat. Oleh karena itu, akibat sama sekali tidak akan menghilang dari pantauan sebab.

Masih menurut argumentasi filsafat, hubungan antara sebab dan akibat adalah ketergantungan satu dengan yang lain. Oleh karena itu, Rasulullah SAWW bersabda, “Siapapun mengenal dirinya, maka ia  mengenal Tuhannya”[10], dan Allah Swt juga berfirman, “ Janganlah kalian menjadi  seperti sekelompok orang yang melupakan Tuhan. Maka, sesungguhnya Tuhan akan melupakan mereka”[11].

Jadi, menurut agama sakral, agama berasal dari internal manusia yang selalu mengarah pada pengenalan Tuhan.

 

Definisi Agama

Menurut pandangan sekuleris, keyakinan agama, seperti kepercayaan terhadap Tuhan, surga, neraka, akherat dan lain-lain sama sekali tidak mempunyai realitas. Sebab, apapun juga tidak bisa dikatakan realita selama belum teruji melalui eksperimen. Namun, agama bisa diterima sebagai norma etika atau bimbingan hidup. Jika agama harus dikatakan sebagai sesuatu yang realistis, itu hanya terbatas pada interaksi kehidupan manusia saat ini dalam konteks “ harus dan tidak harus”.

Menurut pandangan agama sakral, agama terdiri atas dua unsur, yakni “ada dan tidak ada” dan “harus dan tidak harus”. Unsur pertama menjelaskan keyakinan agama yang bermuara pada realitas. Unsur kedua menjelaskan aturan yang harus ditaati oleh manusia. Sesuai dengan penjelasan sebelumnya, al-Qur’an menyatakan bahwa agama selaras dengan fitrah manusia. Semua aturan agama sama sekali tidak membebani fitrah manusia, bahkan menghantarkan manusia untuk merealisasikan fitrahnya dan mencapai tingkat kedekatan diri kepada Tuhan.

 

Tuhan

Salah satu spesifikasi sekulerisme adalah menolak metafisik. Tentu saja,  spesifikasi itu merepotkan posisi agama sakral di hadapan agama sekuler, karena agama sakral meyakini bahwa peran utama agama adalah percaya kepada Tuhan yang metafisik. Oleh karena itu, agama sekuler mengatakan bahwa setiap orang boleh meyakini Tuhan, akan tetapi tidak boleh meyakini-Nya sebagai eksistensi yang nyata. Tuhan adalah sesuatu yang imperative, bukan indicative. Oleh karena itu, Tuhan harus dipahami sebagai norma. Tentunya, norma tersebut terkait dengan etika, sosial dan psikologi yang masing-masing berada dalam koridor eksperimen[12].

Sebaliknya, agama sakral meyakini Tuhan adalah sesuatu yang metafisik[13], sesuatu yang menciptakan alam semesta[14], sesuatu yang keberadaannya sama sekali tidak diragukan[15], sesuatu yang mengetahui segala sesuatu[16], sesuatu yang mampu untuk merealisasikan apapun setiap saat[17],  sesuatu yang mempunyai sifat-sifat kesempurnaan[18] dan lain-lain.

Menurut al-Qur’an, tidak ada kata sebanyak kata “Allah”. Al-Qur’an menggunakan kata “Allah” sebanyak 1.772. Semua itu menunjukan bahwa Tuhan mempunyai peran yang paling mendasar dalam agama sakral.

 

Wahyu

Menurut agama sakral, wahyu dipahami sebagai hubungan khusus antara sejumlah manusia dan Allah SWT melalui para malaikat-Nya. Namun, para sekuleris memandang, wahyu merupakan sesuatu yang dimiliki oleh  manusia biasa[19], bukan para nabi saja, termasuk di antaranya Ibu Nabi Musa as atau kelompok Hawariyun. Wahyu bahkan dimiliki oleh semua makhluk, termasuk di antaranya lebah madu dan langit. Para sekuleris dalam menyampaikan pandangan tersebut tidak segan-segan  bersandarkan pada al-Qur’an. Masih menurut agama sekuler, wahyu tidak bisa dikatakan sebagai sesuatu yang istimewa pada suatu zaman, melainkan  suatu fenomena yang selalu terulang dalam sejarah. Wahyu juga berlaku pada masa sekarang dan masa yang akan datang. Wahyu tersimpan dalam hati manusia, seperti rasa tanggung jawab, rasa peduli pada kebaikan, rasa mencari kesempurnaan, dan lain-lain. Wahyu juga tidak terbatas pada kitab al-Qur’an, tapi sebuah nurani moral manusia yang senantiasa mendorong manusia untuk melakukan perbuatan baik[20].

Namun, menurut al-Qur’an, kata wahyu adalah sinonim kata yang berlaku pada lima makna, yakni isyarat[21], hidayah alam[22], ilham ilahi[23], ilham syetan[24] dan kalam Tuhan kepada nabi-nabi-Nya[25]. Di antara makna-makna tersebut, makna kelima khusus digunakan pada kenabian. Pada umumnya, agama sakral menggunakan kata wahyu pada makna kelima yang khusus berlaku pada kenabian. Terlebih, al-Quran juga mengatakan, Allah berfirman kepada para nabi-Nya melalui Malaikat Jibril[26].

Di samping itu, al-Quran juga menekankan bahwa al-Qur’an yang turun sebagai wahyu Tuhan tidak direkayasa oleh siapapun. Al-Qur’an murni diciptakan oleh Tuhan. Hal tersebut terbukti dengan beberapa surat yang menantang manusia dalam rangka menandingini ayat al-Quran[27]. Bahkan, al-Qur’an juga menolak tuduhan sekelompok orang yang menyatakan utusan-Nya mempunyai andil dalam menciptakan al-Quran[28].

 

Keselamatan

Menurut agama sekuler, keselamatan mengalami pergeseran makna. Keselamatan tidak lagi dipahami sebagai sesuatu yang metafisik, melainkan sebuah upaya praktis dalam mewujudkan sebuah masyarakat yang setiap individunya merealisasikan potensi moralnya untuk menjadi orang yang berperilaku sempurna[29].

 

Sementara itu, agama sakral memandang keselamatan sebagai kebahagiaan akhir manusia. Kebahagiaan akhir adalah kedekatan kepada Tuhan. Menurut al–Quran, orang yang selamat adalah orang yang patuh pada Tuhan[30]. Tentu saja, kedekatan yang dimaksud  tidak mengandung makna tempat dan waktu, karena kedekatan tersebut merupakan sesuatu yang bukan ikhtiyari, yakni tidak berasal dari usaha dan kendalinya. Sedangkan, sifat kedekatan yang dimaksud dalam al-Qur’an adalah sifat yang disandarkan pada orang-orang yang takwa. Ketakwaan manusia dihasilkan dari ikhtiarnya. Oleh karena itu, kedekatan kepada Tuhan sama sekali tidak terealisasi tanpa ikhtiar manusia. Kedekatan kepada Allah merupakan sebuah realitas metafisik antara sebab dan akibat.

 

Dosa

Kelompok sekuleris mempunyai pemikiran materialis dalam memandang dosa. Dosa adalah sesuatu yang menguasai manusia di luar kontrolnya. Dosa dipahami sebagai penyakit badan yang tidak harus dihukum, akan tetapi harus disembuhkan.

Sementara itu, agama sakral memandang dosa sebagai penyelewengan dari aturan agama. Dosa tidak dipahami sebagai penyakit badan, melainkan sebagai penyakit ruh yang dapat menghalangi manusia untuk mencapai kedekatan kepada Tuhan.

 

Simpulan

Secara umum, agama sekuler memandang agama dengan sudut pandang eksperimen. Sederet doktrinasi agama di atas seperti Tuhan, wahyu, dosa dan lain-lain hanya sekedar sebagai contoh pemikiran sekuler. Artinya, masih banyak lagi doktrinasi lainnya yang disekulerisasikan. Secara garis besar, agama sekuler tidak menerima unsur metafisik sebagai konsekuensi dari cara pandang eksperimen dalam segala aspek. Sementara itu, agama sakral bermuara pada pilar metafisik yang tidak bersentuhan dengan metode eksperimen.

Jadi, apakah sekuler bisa diimbuhkan pada kata agama? Jika seluruh doktrinasi agama bisa direvisi secara total, maka hal ini mungkin saja terjadi. Akan tetapi, dengan bangunan agama samawi yang sangat rapi dan kokoh, pekerjaan ini tampaknya sangat berat, kalau tidak dikatakan “mustahil”. Wallahu a’lam. (Alireza)

 

(Artikel ini disampaikan di Konferensi BKPPI yang digelar pertama kali di Qom, Iran)

         


[1] The oxford English dictionary, V.ix , London 1961, PP. 365-6

[2] Luke Ebersol, Dunyoi, Urfi, terjemahan Majidi, Farhangge Ulume Ijtimo’I, Teheran, Cetakan Pertama, 1376, hal 416.

[3] Webster’s encyclopedia unabrideged dictionary of the English language, ran dem house 1995

[4] Azzam Tamimi, John Esposito, Islam and Secularism in The Midle East, New York, 2000, P.14.

[5] W.S.F Pickering, “secularization” in, The Black well encyclopedia of modern Christian thought, ed. By Alister E. me Grath, 1993, P.593.

[6] Modern Christian thought, ibid, P.593 and The encyclopedia of Religion, ed. by mircea Eliade, Macmillan, 1995. V 13, P.159.

[7] Sayid Muhammad Nagib Alatas, Islam wa dunyawigari, terjemahan Ahmad Aram. Muasese mutaleaati islami donesgohe Teheran 1374, hal 20.

[8] Alireza Syuja’i Zand. Din , Jome’eh wa Urfi sudan,  Justorhoy dar Jome’eh setoe Dini., cetakan Markaz, cetakan pertama 1380, hal 229.

[9] Surat Ar-Rum ayat;30 dan surat  Al-A’rof, ayat 172 dan 173.

[10] Jamaludin Muhammad Khonsari, Ghuroril Hikam wa Durorul hikam, bo muqodime tashih wa ta’liqe Mir Jalaludin Husaini, Intisorote Donesgohe Teheran, cetakan pertama 1342, juz 5 hal 194

[11] Al Hasr ayat 19.

[12] Paul Kurtz, toward a new en lighten ment, ed, by vern L. bullough and timott. J Madigan, 1994 P 1991.

[13] At Tauhid ayat;1. Al-Anbiya’ ayat:22.

[14] Yunus ayat;3. As Shofaat ayat;96.

[15] Ibrahim ayat;10.

[16] Al Baqoroh;284.

[17] Al Imran ayat ;40.

[18] Toha ayat;8.

[19] As Syams ayat;7-8

[20] Maqsud Farosatkhoh, Din Wa Kome’eh, Serkate Sahomi Intisyor, cetakan pertama 1377, hal 430-431.

[21] Maryam ayat; 11

[22] Nahl ayat;68

[23] Qisos ayat;40

[24] An’am ayat;112

[25] Syura ayat;51

[26] Al Baqoroh;97

[27] Yunus ayat;38.

[28]  Al Haqoh 40-48

[29] Maqsud Farosatkhoh, Din wa Jome’eh, Serkate Sahami Intisyor, cetakan pertama 1388, hal 18

[30] Al-Ahzab ayat;71dan Al-Maidah ayat;119

About these ads

1 Komentar so far
Tinggalkan komentar

thanks buat artikelnya membantu untuk memahami apa sebenarnya yang dimaksud dengan agama sekuler.

Komentar oleh ririn




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: