Kembalilah ke Tanah Air!


Di Balik Pemutusan Hubungan Diplomatik Georgia atas Rusia
Agustus 30, 2008, 1:08 pm
Filed under: Politik

Pemerintah Tbilisi, akhirnya, menyatakan pemutusan hubungan diplomatik dengan Moskow. Parlemen Georgia dalam sidang daruratnya, menyepakati keputusan pemutusan hubungan diplomatik dengan Rusia. Langkah itu diputuskan setelah Rusia menduduki sejumlah kawasan di Georgia. Berdasarkan keputusan tersebut, para diplomat Georgia harus segera meninggalkan Rusia. Meski demikian, Deputi Menteri Luar Negeri Georgia, Grigol Vashadze, mengatakan, “Keputusan ini tidak seharusnya dipahami sebagai pemutusan hubungan politik secara total. Sebab, konsulat kedua negara masih aktif.”

 

Menanggapi kebijakan Tbilisi soal pemutusan hubungan politik dengan Rusia, seorang pejabat Departemen Luar Negeri Rusia mengatakan,negara ini terpaksa menonfungsikan kedutaannya di Tbilisi setelah Georgia memutuskan hubungan politiknya dengan Rusia. Sementara itu, Juru Bicara Gedung Putih, Dana Perino, menyatakan tidak heran dengan keputusan Georgia yang memutuskan hubungan diplomatik dengan Rusia, menyusul publikasi laporan-laporan soal upaya Moskow untuk memiliki pos militer di kawasan Ossetia Selatan.

 

Keputusan Georgia yang memutuskan hubungan dengan Rusia juga mengundang perhatian tersendiri bagi para pengamat politik, mengingat sebelumnya telah digelar sidang darurat Uni Eropa. Apalagi disebut-sebut bahwa Uni Eropa tengah berupaya memberikan sanksi berat atas Rusia dengan mengucilkan negara ini di kancah internasional. Analisa lainnya menyebutkan bahwa pemutusan hubungan politik oleh Tbilisi atas Moskow sama seperti operasi militer Georgia atas Ossetia Selatan yang mendapat lampu hijau dari Barat, yang bertujuan mengukur reaksi Rusia atas kemungkinan langkah Washington yang berniat menyudutkan Moskow.

 

Sementara itu, Rusia seraya menyinggung putusnya hubungan politik antara Tbilisi dan Moskow, secara implisit mensyaratkan segala hubungan politik dan diplomatik dengan stabilitas kondisi di kawasan dan sikap positif Georgia. Terkait hal ini, para pengamat politik berpendapat bahwa pemutusan hubungan politik oleh Tbilisi atas Moskow dapat diartikan sebagai sikap pesimis Georgia untuk berunding dengan Rusia guna menyelesaikan konflik antarkedua negara. Dengan demikian, para pejabat Georgia, sepertinya, cenderung menyelesaikan masalah bukan melalui jalan diplomatik kedua negara. Akan tetapi, Tbilisi berpikir bahwa konflik antarkedua negara dapat diselesaikan dengan cara kekerasan yang diterapkan oleh sejumlah negara Eropa dan AS.

 

Tentunya, gaya Barat dalam mengatasi konflik Rusia-Georgia akan menimbulkan sederet dampak negatif yang salah satunya adalah krisis baru di Kaukasus dan berlanjutnya perang di kawasan hingga waktu yang tak dapat ditentukan. Sementara itu, kebijakan Georgia yang memutuskan hubungan diplomatik dengan Rusia, menurut Moskow, dapat diartikan sebagai langkah untuk mempersiapkan intervensi Barat dalam perkembangan politik di kawasan yang merupakan hal yang sangat sensitif bagi Rusia. (Alireza Alatas)

 

(Sumber: IRIB)

About these ads

Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: