Diarsipkan di bawah: Uncategorized
Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran, Manouchehr Mottaki, menyatakan bahwa sentimen Islam adalah sebuah teori yang dikembangkan di Barat. Mottaki dalam sidang bersama menlu negara-negara Islam dan Barat di Astana, ibukota Kazakhstan, mengatakan, “Setelah hancurnya sistem dua kutub di dunia, liberal demokrasi berupaya menjadikan sentimen Islam sebagai teori yang dikembangkan di Barat. Teori itu menuntut adanya sebuah musuh di tengah opini umum untuk dilawan.”
Lebih lanjut Mottaki menuturkan, “Pemaksaan pada sekulerisme sepenuhnya bertendensi politik, bukan budaya, yang bermuara dari definisi Barat tentang wacana liberal demokrasi. Namun dengan meletusnya revolusi Islam, perkembangan setelah itu dihadapkan pada kegagalan.” Ditegaskannya pula, Eropa harus menyusun ketetapan dan aturan yang membedakan penistaan terhadap agama dengan pengertian kebebasan.
Mottaki juga juga mengatakan, “Di saat radikalisme dihubungkan dengan agama untuk kepentingan anti agama dalam lingkup luas dan anti Islam dalam lingkup yang lebih spesifik, kita menyaksikan kebebasan penuh bagi sekularisme radikal di Barat. “ Dikatakannnya pula, “Sentimen terhadap Islam merupakan tantangan bagi semua pihak. Sebab, masalah ini berdampak pada perdamaian dan keseteraan internasional.” Ia menambahkan, penyelesaian problema dunia menuntut solusi global yang memerlukan dua hal, kesepahaman dan partisipasi dunia. Akan tetapi kedua hal itu telah diabaikan oleh Barat.
Dalam kesempatan yang berbeda, Mottaki seusai sidang soal Barat dan Islam, di hadapan para wartawan mengatakan, pengaturan dunia baru dengan sistem lama dan unilateralisme merupakan hal yang tidak mungkin terealisasi. Dikatakannya, “Dunia baru tengah terbentuk. Untuk itu, dunia baru harus dikenali dengan baik dan sistem lama atau unilateralisme tidak dapat diterapkan di sana.”
Kepada negara-negara adidaya, Mottaki mengatakan, “Meski kalian menguasai media media dunia, tapi kalian tidak dapat selalu mempertahankan opini umum soal kebatilan dan kalian tidak dapat mengabaikan kebenaran itu sendiri.” Ditegaskannya pula, negara-negara Barat tidak dapat menyuarakan slogan hak-hak asasi manusia, namun pada saat yang sama, mereka melakukan tindakan kriminal di penjara-penjara Abu Ghraib dan Guantanamo. (Alireza Alatas)
(Sumber: IRIB)
Diarsipkan di bawah: Uncategorized
John McCain dan Barack Obama kembali bertarung dalam debat kedua di Belmont University, Nashville, Tennessee, Selasa (7/10) waktu setempat atau Rabu (8/10). Dalam acara debat tersebut yang ditayangakan televisi setempat, kedua kandidat presiden AS menjawab pertanyaan-pertanyaan secara terulis dan lisan yang dilontarkan oleh para pemilih yang menghadiri acara debat tersebut.
Mengingat kondisi krisis ekonomi di Negeri Paman Sam, perhatian para pemilih lebih tertuju pada program ekonomi yang ditawarkan oleh kedua kandidat AS. Dalam acara debat kedua, kandidat presiden AS asal Partai Demokrat dan Partai Republik lebih memperdebatkan isu-isu yang bersangkutan kebijakan pajak, program komprehensif energi dan lingkungan hidup.
McCain menuding Obama berupaya mendongkrak biaya pajak dan memperingatkan bahwa kemenangan Partai Demokrat dalam pemilihan presiden AS akan menimbulkan terpuruknya proses produksi di dalam negeri. Sementara itu, Obama mengkritik kebijakan ekonomi pemerintah saat ini. Dikatakanya, “McCain mengurangi biaya pajak demi kepentingan orang-orang kaya.” Kebijakan perpajakan dapat dikatakan sebagai poin kunci dalam pemilihan presiden AS pada tahun 2008. Sebab, sebagian besar warga AS, dari satu sisi, mendukung pengurangan pajak agar masyarakat dapat menabung dan meningkatkan daya beli. Akan tetapi dari sisi lain, mereka mengaku kecewa dengan ketidakseimbangan bujet pemerintah federal dan negara bagian di negeri ini. Kebijakan pengurangan pajak yang diterapkan oleh pemerintah Presiden AS, George W. Bush dinilai hanya menguntungkan para pemilik modal. Sebab, kalangan menengah ke bawah yang tidak mempunyai cukup modal akan dibebani tanggung jawab untuk menanggung dana krisis ekonomi saat ini, melalui kebijakan pengurangan pajak.
Menurut para pakar ekonomi, resesi keuangan tidak hanya menimpa pasar-pasar saham, tapi juga menghantam kehidupan sehari sehari warga AS. Dampak-dampak krisis ekonomi yang dialami langsung oleh warga negeri ini, dapat dilihat dari ludesnya tabungan keluarga, anjloknya nilai saham, meningkatnya pengangguran dan menurunnya daya beli.
Selain itu, warga negara AS mengkhawatirkan mekanisme jaminan konsumsi energi yang kian meningkat. McCain dalam acara debat tersebut berjanji akan melawan ketergantungan AS atas impor minyak dan menjamin konsumsi energi dengan cara membangun reaktor-reaktor nuklir baru dan menggunakan sumber-sumber minyak di landas kontinen. Sementara itu, Obama berpendapat bahwa pelaksanaan program tersebut akan merusak lingkungan hidup dan menimbulkan dampak buruk pada kehidupan manusia.
Perdebatan pertama dan kedua antarkandidat presiden AS masih tidak mengubah hasil polling sebelumnya. Jajak pendapat yang dilakukan setiap hari oleh Gallup, Selasa, memperlihatkan Obama unggul sembilan angka di tingkat nasional. Hasil angket Gallup menyebutkan, Obama lebih unggul 51 persen berbanding 42 persen atas McCain. Adapun jajak pendapat CNN menyatakan Senator Illionis tersebut lebih unggul dengan angka 53 persen, sedangkan McCain 45 persen. (Alireza Alatas)
(Sumber: IRIB)
Militer AS terpaksa mengakui pembantaian terhadap warga tak berdosa di Afghanistan menyusul meningkatnya berbagai tekanan internasional. Kantor Berita Associatted Press dari Kabul melaporkan, militer AS menyatakan bahwa pihaknya mengutus seorang perwira militer untuk melakukan penyelidikan di Afghanistan. Badan Intelijen Afghanistan dan PBB mempunyai bukti gambar tentara AS saat melakukan serangan udara ke desa Aziz Abad, Provinsi Herat, Afghanistan barat. Dalam gambar tersebut nampak sepuluh jenazah perempuan dan anak kecil.
Sebuah komisi pemerintah Afghanistan melaporkan, 90 warga sipil, termasuk 60 bocah dan 15 perempuan, dinyatakan tewas akibat serangan udara pada tanggal 22 Agustus. Sementara itu, AS mengklaim bahwa serangan udara ke kawasan Herat , barat Afghanistan, menewaskan tujuh warga sipil dan 35 milisi Taliban.
Dari sisi lain, seorang pejabat PBB yang namanya tidak mau disebut menyaksikan gambar-gambar tragedi Aziz Abad. Dalam gambar tersebut nampak anak-naka yang kehilangan anggota tubuh. Seorang pejabat lainnya yang namanya enggan disebut mengatakan, gambar-gambar tersebut menunjukkan puluhan jenazah anak kecil yang saling berhimpitan.
Lembaga Pelindung Hak-Hak Asasi Manusia dalam laporannya hari ini mengumumkan, jumlah warga sipil yang tewas dalam serangan militer AS ke Afghanistan meningkat tiga kali lipat antara tahun 2006 hingga 2007. (Alireza Alatas)
(Sumber: IRIB)
Diarsipkan di bawah: Uncategorized
Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!