Kembalilah ke Tanah Air!


AS dalam Sepekan (08 Februari 2009)
Februari 8, 2009, 11:41 am
Filed under: Politik

Setelah terjadi tarik-ulur di Senat, para senator AS akhirnya menyepakati paket ekonomi Presiden AS, Barack Obama. Kesepakatan tersebut diputuskan setelah tiga senator Partai Republik menyatakan dukungannya atas draf yang diusulkan Obama. Susan Collins, seorang senator asal Partai Republik yang menyepakati paket usulan Obama, mengatakan, “Masyarakat AS menghendaki kita supaya bekerjasama. Mereka tidak ingin melihat para wakilnya di Senat saling berkonfrontasi untuk kepentingan partai di tengah krisis ekonomi.” Partai Demokrat yang menguasai dua majelis di Kongres mampu meratifikasi paket ekonomi yang dirancangnya. Namun tak diragukan juga, formasi koalisi minoritas Partai Republik dapat menjadi kendala serius untuk meloloskan paket yang dirancang Partai Demokrat. Washington dan kubu moderat Partai Demokrat yang mengalah dan memenuhi tuntutan kelompok konservatif yang di antaranya adalah pemberlakuan keringanan pajak dalam skala luas, sangat berpengaruh menarik pandangan kelompok moderat Partai Republik.

 

Dalam paket ekonomi senilai 835 milyar dolar AS, 42 persen dialokasikan untuk dana keringanan pajak untuk properti dan otomotif, sedangkan 57 persen digunakan untuk investasi infrastruktur pemerintah. Dalam proses lobi di kalangan para senator, mereka telah menyepakati draf senilai lebih dari 930 milyar dolar AS. Namun paket tersebut ditentang kubu liberal Partai Demokrat yang tidak sependapat dengan kebijakan keringanan pajak. Menyusul penentangan tersebut, Senat membatasi dana 835 milyar dolar AS untuk paket ekonomi yang diusulkan Obama. Jumlah besar tersebut merupakan dana terbesar paket penyelamatan ekonomi dalam sejarah AS.

 

Pekan lalu, Departemen Tenaga Kerja AS mempublikasikan data tingkat pengangguran pada bulan pertama tahun 2009. Berdasarkan laporan tersebut, 597 ribu orang kehilangan pekerjaan di bulan Januari. Dengan demikian, nilai pengangguran di AS meningkat menjadi 7,6 persen di bulan Januari. Padahal pada bulan Desember tahun 2008, nilai pengangguran di negara ini mencapai 7,2 persen. Jumlah penganggur yang mendekati angka 600 ribu dalam kurun satu bulan, disebut-sebut sebagai rekor dalam 34 tahun terakhir ini. Kondisi ini menunjukkan bahwa ekonomi AS berada dalam kondisi terengah-engah. Lonjakan terus-menerus nilai penggangguran di negeri Paman Sam merupakan tantangan serius pemerintah Presiden baru AS, Barack Obama. Jika kondisi seperti ini terus berlangsung, diprediksikan nilai pengangguran di AS akan mencapai sepuluh persen hingga penghujung tahun 2009. Hal ini akan berdampak buruk pada ekonomi AS. Dalam jangka menengah, problema sosial pun akan meliputi negeri ini. Obama berjanji akan menciptakan tiga juta lapangan kerja dalam kurun tiga tahun. Namun mengingat lonjakan nilai pengangguran di Negeri Paman Sam, Obama sepertinya tidak dapat mewujudkan slogan utamanya tersebut.

 

Pekan lalu, Presiden Barack Obama merekomendasikan Judd Gregg sebagai calon Menteri Perdagangan. Dengan keputusan tersebut, jumlah pejabat Partai Republik di pemerintah Partai Demokrat bertambah menjadi tiga orang. Gregg yang juga selaku Senator negara bagian New Hampshire, menerima panggilan Obama untuk bergabung dalam pemerintahannya. Gregg juga menghendaki Gubernur New Hampshire supaya merekomendasikan seorang asal Partai Republik sebagai penggantinya, sehingga format Senat tidak mengalami perubahan. Saat ini, Partai Demokrat kekurangan satu kursi untuk mencapai jumlah mayoritas mutlak, yakni 60 kursi di Senat. Dengan memanggil sejumlah pejabat Partai Republik untuk bergabung ke pemerintah, Obama berharap Partai Republik dapat bekerjasama mengatasi problema ekonomi dan keamanan di dalam negeri.

 

Jika Senat menyetujui usulan Obama, tiga departemen penting yaitu pertahanan, transportasi , dan perdagangan akan dikuasai oleh kubu Republik. Langkah Obama ini termasuk kebijakan langka dalam pemerintahan AS selama seratus tahun terakhir. Sebab, sangat jarang presiden negara itu memberikan tiga departemen penting kepada partai rivalnya. Sebelumnya, Gubernur New Mexico dari partai Demokrat, Bill Richardson merupakan pilihan pertama Obama untuk menteri perdagangan sebelum ia menunjuk Gregg. Namun, Richardson mundur di tengah penyidikan kasus korupsi yang melibatkan dirinya. Akhirnya, Obama memilih senator dari kubu Republik, Judd Gregg.

 

 

Pekan lalu, Eric Holder diangkat sebagai Jaksa Agung dan Menteri Kehakiman kulit hitam pertama di AS, dengan 75 suara mendukung dan 21 suara menentang. Saat ini, Holder merupakan satu-satunya menteri kulit hitam di kabinet Obama. Suara dukungan Senat atas calon menteri kehakiman itu diputuskan setelah perdebatan serius di kalangan senator selama beberapa hari. Masalah utama yang diperdebatkan para senator adalah sikapnya mengenai terorisme, mekanisme interogasi dan penyiksaan terhadap para tahanan yang diduga terlibat aksi terorisme. Pada akhirnya, mayoritas Senat mendukung Jaksa Agung dan Menteri Kehakiman usulan Obama dengan syarat bahwa ia harus menghapus kebijakan penyiksaan terhadap tahanan dan water boarding. Sebelumnya, Michael Mukasy, Jaksa Agung di periode kepresidenan Bush, juga diminta berkomitmen dengan syarat tersebut sebelum disepakati oleh Senat. Saat ini, Holder mempunyai tugas berat untuk membersihkan dua instansi federal yang menerapkan metode penyiksaan terhadap para tahanan dan melakukan pelanggaran hak asasi manusia di penjara-penjara negara ini, khususnya Guantanamo. Jaksa Agung baru juga harus menentukan mekanisme pengadilan dan pembebasan para tahanan sebelum batas akhir masa penutupan penjara Guantanamo.

 

Pekan lalu, Presiden AS, Barack Obama harus mengakui kekeliruannya. Pengakuan atas kekeliruan itu dilontarkan Obama setelah terkuaknya sejumlah skandal keuangan yang melibatkan sejumlah pejabat yang ditunjuk untuk menjabat sebagai menteri. Dalam wawancaranya dengan CNN, Barack Obama mengakui kekeliruannya soal pencalonan Tom Daschle sebagai menteri. Barack Obama mengatakan bahwa penunjukan Tom Daschle memberikan pesan kepada warga AS bahwa pemerintah akan menyikapi segala penyeleweangan tanpa membedakan pejabat dan warga biasa. Meski demikian, penunjukan Tom Daschle dan Timothy Geithner mempertanyakan slogan Obama tentang transparansi pembentukan pemerintahan.

Sebelum Daschle, Timothy Geithner juga dipermasalahkan oleh Senat karena lari dari kewajiban membayar pajak. Berdasarkan sejumlah bukti yang disodorkan oleh para senator, Geithner sepanjang tahun mengalami penunggakan pajak sedikitnya 340 ribu dolar. Namun, Obama tetap mengangkat Geithner sebagai menteri keuangan yang di antara tugasnya adalah menyusun dan mengawasi penyetoran pajak. Tanpa memperhatikan skandal yang ada, Senat AS menerima pencalonan Geithner untuk mempercepat draft penyelamatan ekonomi. Seminggu kemudian, Tom Daschle yang ditunjuk sebagai menteri kesehatan juga tersandung kasus yang sama. Namun nasibnya tidak semulus Geithner. Kali ini, para senator tidak mentolerir sikap Daschle yang lari dari kewajiban membayar pajak. Oleh karena itu, Mantan senator dari partai Demokrat, Tom Daschle yang ditunjuk Obama sebagai menteri kesehatan mengundurkan diri. Barack Obama pun menerima pengunduran itu.

Pekan lalu, jumlah tentara AS yang melakukan bunuh diri mencapai pada titik yang sangat mengejutkan. Berdasarkan laporan Kementerian Pertahanan AS, jumlah pasukan yang bunuh diri sejak tahun 2004 terus meningkat. Di bulan Januari, jumlah tentara AS yang tewas di Irak dan Afghanistan lebih sedikit dibanding jumlah tentara yang bunuh diri. Saat ini, militer AS tengah melakukan investigasi soal aksi bunuh diri oleh 24 tentaranya di bulan Januari. Pada tahun 2004, 60 tentara AS di Irak dan Afghanistan melakukan aksi bunuh diri. Namun saat ini, jumlah tentara AS yang bunuh diri mencapai 24 personel dalam satu bulannya. Lamanya masa perang, kondisi sulit di pangkalan militer AS di Irak dan Afghanistan, dan problema mental adalah di antara faktor yang menyebabkan bertambahnya jumlah tentara AS yang bunuh diri. Laporan tersebut disampaikan di saat Presiden Obama berniat menempatkan pasukan AS ke Afghanistan dalam jumlah yang lebih besar. Mengingat meningkatnya tingkat kekerasan di Afghanistan, ada kemungkinan bahwa jumlah tentara AS yang bunuh diri akan terus meningkat pada bulan-bulan mendatang. (IRIB)



Dialog Baasyir-Frans Seda Soal Syariat Islam
Februari 7, 2009, 8:54 am
Filed under: Kajian

Frans Seda, Tokoh Katolik dan Mantan Menteri Keuangan Orba: Saya Setuju Syari’at Islam Tanpa Paksaan

Pada 4 November 2006, mantan Menteri Keuangan era Soeharto, Frans Seda datang berkunjung ke Markaz Majelis Mujahidin, Jogjakarta. Lelaki renta berumur 80 tahun itu, nampak lelah dan terhuyung ketika memasuki ruang pertemuan dengan dikawal dua orang bodyguard berkacamata hitam. “Saya ingin menyambung pertemanan historis antara tokoh Islam dan Non Islam. Saya kenal baik dengan Mohammad Natsir, Kasman Singodimejo, Safruddin Prawiranegara, dan sekarang saya ingin meneruskan hubungan baik itu dengan pimpinan Majelis Mujahidin, Pak Ba’asyir,” kata Frans Seda menerangkan maksud kehadirannya di Markaz Majelis Mujahidin. Ikut dalam rombongan Frans Seda –seperti dituturkan- adalah Chris Siner Key Timo (anggota petisi 50), Paulus Harry (Ketua Ikatan Sarjana Katolik), Joko Wiyono (Ketua Forum Masyarakat Katolik Indonesia Keuskupan Agung Jakarta), Polikarpus da Lopes (Ketua Solidaritas Aksi Katolik Indonesia), Barnabas Hura (Forum Komunikasi PMKRI), dan
Hartono Jusuf (Budha).

Irfan S. Awwas, selaku Ketua Lajnah Tanfidziyah Majelis Mujahidin, mengawali pertemuan dengan kata pembuka: “Pertama sekali saya ucapkan terima kasih kepada para tamu. Kami tidak menduga, pada saat MM difitnah sebagai gerakan Islam radikal dan Ustadz Ba’asyir dituduh teroris oleh Amerika, tokoh-tokoh Katolik dan Budha malah datang berkunjung, mudah-mudahan saja pertemuan ini bermanfaat bagi kita dan bangsa Indonesia. Kami, tentu saja akan senang jika para tamu memperkenalkan diri dan sekaligus menyampaikan secara terbuka dan terus terang, maksud dan harapan dari pertemuan ini.” Pertemuan Sabtu siang itu, Amir Majelis Mujahidin (MM), Ustadz Abu Bakar Ba’asyir didampingi pengurus Lajnah Tanfidziyah MM: Irfan S. Awwas, Dr. Harun Rasyid, Shabbarin Syakur, dan Fauzan Al-Anshari.

Usai perkenalan, Frans Seda langsung pada persoalan yang jadi tujuan utamanya berkunjung menemui pimpinan MM: “Kita boleh berbeda pendapat tapi tetap satu bangsa, maka selalu saya upayakan untuk melakukan ‘silaturrahmi’ karena kita tahu dalam kehidupan berbangsa kita perlu kebersamaan. Kita mau bertanya pada Pak Ba’asyir, sebagai wujud kebebasan beragama, bukan dalam rangka mau menjadikan Indonesia sebagai Negara Islam, kalau orang Islam ingin melaksanakan Syari’at Islam, oke! Tapi mengapa Majelis Mujahidin ingin melaksanakan Syari’at Islam melalui UU negara? Kami juga berkeinginan melaksanakan ajaran Kristen, tapi tidak dalam format lembaga negara. Apakah keinginan untuk melaksanakan Syari’at Islam melalui UU bukan berarti pemaksaan?

Ustadz Ba’asyir : Mungkin Pak Frans belum paham makna kebebasan beragama menurut Islam, maka perlu saya terangkan dulu. Kebebasan beragama, artinya masing-masing umat beragama bebas untuk meyakini dan mengamalkan ajaran agamanya, termasuk cara mengamalkannya, tidak boleh dihalangi oleh umat agama lain.

Di dalam Al-Qur’an ada pernyataan resmi, bahwa dalam menyiarkan (mendakwahkan) Islam dilarang memaksa Non Muslim untuk masuk Islam, baik secara halus maupun kasar. “La ikraha fiddin qattabayyana rusydu minal ghayyi (Qs. 2:256)” (Tidak boleh ada paksaan untuk memasuki dienul Islam; sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat). Maka, bagi orang Islam, hanya diperintahkan untuk menasihati (mendakwahi) supaya orang Non Islam masuk Islam, bukan memaksa. Dalam hal ini, jika ada orang kafir minta tolong misalnya, kami tidak dilarang untuk memberi pertolongan menurut kemampuan, tetapi kami tidak boleh memanfaatkan kelemahan orang lain untuk memaksanya pindah agama. “Saya mau tolong anda dengan syarat masuk Islam,” cara demikian dilarang agama kami. Seseorang boleh menerima Islam setelah diberi pengertian bahwa Islam itu agama yang paling benar, bila belum mau diajak berdiskusi, tidak mau juga tidak boleh dipaksa. Jadi, sungguh
keliru pendapat orang yang menyatakan Islam disiarkan dengan pedang, atau kekerasan.

Tetapi benar, bahwa Islam harus dibela dengan lisan, dan juga kekuatan senjata. Bila dakwah Islam ditolak dengan argumentasi, maka harus dibela secara argumentatif. Bila ditolak atau diserang dengan menggunakan kekuatan senjata, maka kami diperintahkan juga menghadapai serangan itu dengan kekuatan senjata. Oleh karena itu Islam tidak boleh dipisah dengan senjata, bukan bermaksud untuk membunuh umat agama lain. Tapi, untuk membela diri sekaligus untuk menghentikan ancaman dan gangguan terhadap Islam dan umat Islam.

Di dalam Al-Qur’an ajaran yang bunyinya “laa yanha kumullahu ‘anilladzina lam yuqatilukum fiddin wa lam yukhrijukum mindiyarikum….. (Qs.60:8). (Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang (Non Muslim) yang tidak memerangi agamamu dan tidak mengusir kamu dari negerimu. Jadi, menurut Islam, selama orang kafir atau Non Muslim tidak memerangi, tidak menganggu dan menghalang-halangi usaha-usaha umat Islam untuk mengamalkan Syariat-Nya, kami dianjurkan untuk memperlakukan orang lain dengan baik dan adil. Ini aturan dari Allah langsung ditetapkan melalui kitab suci Al-Qur’an. Bahkan, jika terjadi peperangan antara orang-orang Islam dengan orang kafir, Rasulullah Saw menasihati jangan membunuh wanita, jangan membunuh anak-anak, jangan membunuh pendeta yang sedang beribadah (atau ketika itu tidak terlibat di dalam peperangan). Selama tidak mengganggu, ya kita bisa bergaul dengan baik, malah di dalam Al-Qur’an
disebutkan jangan mencaci tuhan-tuhan mereka. Kalau ada orang kafir menyembah batu, jangan dicaci agar dia tidak berbalik mencaci Allah Swt.

Perlu saya beritahukan, bahwa sebenarnya Islam itu bukan sekadar agama dalam pengertian ritual. Islam bukan hanya aturan cara menyembah Allah. Tetapi Islam adalah Addin. Din al-Islam di dalam bahasa Arab berarti undang-undang (nidhamul hayah), tatanan atau sistem untuk mengatur hidup manusia. Di dalam Al-Qur’an Allah menyatakan “Waradhitu lakumul Islamadina” (aku ridha Islam sebagai Din bagimu). Artinya, Islam sebagai undang-undang atau peraturan hidup. Di dalam Al-Qur’an terdapat kalimat Dinul Malik, maksudnya bukan Agama Raja, tetapi UU Raja untuk mengatur kehidupan rakyatnya. Karena itu, Islam tidak hanya mengajarkan tata cara menyembah, tata cara shalat, zikir. Tetapi Islam juga mengatur tata cara perkawinan, mulai cara melamar calon istri/suami, setelah jadi suami istri bagaimana cara bergaulnya, apa hak suami terhadap istri dan sebaliknya hak istri terhadap suami, semua diatur termasuk bila terjadi perceraian. Bagaimana bertetangga dengan
sesama Muslim dan Non Muslim, dan bagaimana cara mengatur negara, menyelenggarakan pemerintahan, juga diatur di dalam Islam.

Mengamalkan Syari’at Islam melalui lembaga negara adalah keyakinan Islam, bukan politis. Maka, Nabi Muhammad memberi contoh cara mengamalkan Islam yang benar, yaitu harus dengan kekuasaan negara. Tidak sempurna pengamalan Islam jika hanya dilaksanakan secara individu, tapi harus melalui konstitusi negara. Maka kalau ada orang yang menyatakan Islam tidak ada hubungannya dengan negara, atau yang penting substansinya bukan formalisasinya, adalah suatu penyelewengan yang sangat jauh dari Islam. Nabi Muhammad diutus Allah, disamping untuk menerangkan tatanan hidup menurut konsepsi Allah Swt juga sebagai uswah hasanah (contoh baik yang harus ditauladani) dalam hal bagaimana mengamalkan Dinul Islam itu.

Jika Islam menjadi UU, tidak ada alasan bagi Non Muslim untuk khawatir dipaksa masuk Islam, atau dilarang melaksanakan keyakinannya. Bila menurut keyakinan agamanya, orang Kristen wajib melaksanakan kebaktian tiap hari minggu, atau menurut keyakinannya pemeluk Kristen boleh minum bir, anggur, makan daging babi, tidak akan dihalangi. Negara akan mengatur pelaksanaannya agar tidak mengganggu umat lain yang berbeda keyakinan. Misalnya, pada bulan suci Ramadhan, orang Islam wajib berpuasa, lalu negara membuat UU tentang larangan membuka warung makan di siang hari, khusus orang Islam. Non Muslim boleh saja membuka warung, sejauh tidak mengganggu Muslim yang sedang puasa, dan yang boleh membeli di warung makan itu hanya Non Muslim. Kalau ada orang Islam ikut makan yang berarti dia melanggar kewajiban puasa, terkena sanksi UU.

Jika sekarang Majelis Mujahidin, berusaha supaya Syari’at Islam menjadi hukum positif, itu bukan politik pak, melainkan keyakinan agama. Seperti keinginan Anda melaksanakan ajaran Kristen tidak melalui negara, itu hak Anda, kami tidak boleh ganggu gugat. Harapan kami, Anda juga jangan ganggu keyakinan kami untuk melaksanakan Syari’at Islam melalui lembaga negara. Maka, kalau Syari’at Islam tidak boleh menjadi UU negara, padahal mayoritas penduduk negeri ini orang Islam, jelas suatu kedhaliman. Bukan kedhaliman terhadap politik, tapi kedhaliman terhadap keyakinan agama.

Frans Seda : Saya kira begini Pak Ba’asyir, yang diingini orang Islam bagi kita tidak masalah. Masalahnya, ketika orang Islam bergaul dengan kita, praktiknya berbeda dengan yang diuraikan tadi. Saya pernah mengikuti diskusi antara pak Mohammad Natsir sama Kartosuwiryo. Pak Natsir katakan dia setuju dengan Bung Karno memperjuangkan Syari’at Islam melalui demokrasi, lalu ia menentang Kartosuwiryo, you salah kalau pake senjata. Lantas Kartosuwiryo bertanya pada Natsir, kalau kita diserang bagaimana? Kalau kau diserang, ya kau balas. Tapi sekarang kau menyerang, kau menyalahi agama Islam. Kita juga orang Islam, agama Islam harus tegak tapi cara kita berbeda. Kamu mau panggul senjata, saya tidak mau, kata Natsir. Kalau kita ketemu orang Islam yang sependapat dengan Pak Ba’asyir, melaksanakan Syari’at Islam tanpa paksaan, saya setuju sekali. Tapi, umat Islam beda-beda.

Saya mengalami sendiri pak. Saya bertemu seseorang yang mengatakan, Frans seharusnya kau hubungi polisi karena kamu berada di tengah musuh, cepat kamu pergi dari situ kalau tidak kamu dibunuh. Sering umat Islam yang mengaku Muslim memusuhi kita, itu yang jadi masalah.

Ustadz Ba’asyir : Islam tidak mengajarkan untuk memusuhi orang lain karena perbedaan suku, agama, ras. Prinsipnya, bukan asal memusuhi tapi harus ada alasan syar’i, seperti Non Muslim memerangi, mengusir, dan membantu orang lain mengusir umat Islam. Sudah diterangkan tadi tentang konsep dan cara mengamalkan Islam melalui lembaga negara. Kalau ada yang menghalangi, itu namanya memusuhi keyakinan agama kami. Bila mereka menghalangi dengan argumentasi, maka kami hadapi secara argumentatif. Bila menghalangi menggunakan kekuatan senjata, maka Islam memerintahkan pada kami untuk menghadapinya dengan cara yang sama, jihad dengan senjata.

Frans Seda : Kalau ada yang tidak setuju dengan keyakinan itu bagaimana?

Ustadz Ba’asyir : Boleh saja tidak setuju terhadap keyakinan kami, seperti juga kami tidak setuju dengan keyakinan bapak yang mengatakan tuhan punya anak, atau melaksanakan agama tanpa formalisasi dalam UU. Karena itu jangan mengganggu keyakinan kami, dan kami pun tidak akan mengganggu keyakinan Anda. Harus diakui, perbedaan di antara umat beragama pasti ada. Pak Frans menganggap ajaran Islam yang dibawa Nabi Muhammad itu tidak betul. Atau tidak mau mengakui Nabi Muhammad sebagai Nabi, saya bisa mengerti. Tidak apa-apa. Begitupun, saya berkeyakinan perayaan Natal itu suatu perbuatan bathil, perbuatan salah. Menganggap Nabi Isa sebagai Tuhan adalah kesesatan, mestinya Anda juga tidak marah ‘kan. Karena itu menyangkut keyakinan, tidak bisa dipaksa. Maka tidak perlu ada ajakan natal bersama, do’a bersama dan sebagainya.

Frans Seda : Bagaimana kalau ada orang Islam yang mengganggu kita?

Ustadz Ba’asyir : Kalau bapak tidak mengganggu orang Islam, lalu ada orang Islam yang mengganggu orang Kristen seperti bapak, jelas itu salah, dia orang Islam yang bodoh. Allah Swt tidak melarang kamu untuk berbuat adil dan baik kepada Non Muslim yang tidak memerangi kamu dalam agama dan mengusir kamu dari negerimu dan tidak membantu orang lain untuk mengusir kamu.” Tetapi kalau Non Muslim mulai memerangi kamu, tegas Islam memerintahkan: Putus hubungan, dan perangi mereka.

Frans Seda : Pak Ba’asyir, Non Islam memerangi Islam, karena orang Islam sendiri memerangi mereka?

Ustadz Ba’asyir : Silahkan tunjukkan bukti. Kalau ada bukti, bukan rekayasa lho, saya menyalahkan orang Islam yang memerangi Non Islam tanpa alasan yang dibenarkan oleh Syari’at Islam. Yang sering terjadi justru orang Yahudi dan Nasrani memerangi dan membantu golongan lain untuk memerangi umat Islam di mana-mana.

Syari’at Islam Tanpa Paksaan

Irfan S. Awwas : Pak Frans menanyakan, mengapa Majelis Mujahidin berjuang untuk formalisasi Syari’at Islam, sedang orang Kristen ingin melaksanakan ajaran Kristen tapi tidak perlu melalui lembaga negara. Alasan normatifnya sudah dijelaskan Ustadz Ba’asyir tadi. Faktanya, tidak mungkin Islam dapat melaksanakan perannya dalam memperbaiki masyarakat secara optimal tanpa melalui kekuasaan negara. Pertanyaan kami, apakah Kristen Katolik atau Protestan memiliki konsep tentang sistem kenegaraan? Jika ajaran Kristen tidak memiliki konsep hidup bernegara, sehingga dianggap cukup dilaksanakan secara individu, tentu tidak fair bila kaum Nasrani (Kristen) menggunakan alasan demikian untuk menghalangi umat Islam melaksanakan Syari’at Islam di lembaga negara. Karena Islam memiliki perangkat dan tatanan berkaitan dengan kehidupan berbangsa dan negara.

Frans Seda : Tapi pelaksanaan Syari’at tanpa paksaan ‘kan?

Irfan S. Awwas : Benar, tanpa paksaan! Oleh karena itu, kami perlu penjelasan konkrit, bentuk paksaan yang dimaksud seperti apa? Apakah khawatir dipaksa masuk Islam? Penting bagi kami pernyataan jujur dan terus terang dari Anda, maksud paksaan sekaligus apa sih kerugian Non Muslim bila Syari’at Islam dijalankan melalui lembaga negara?

Frans Seda : Bukan merugikan, tapi adanya paksaan harus melaksanakan Syari’at Islam, itu yang kami tidak mau. Apabila dilaksanakan melalui lembaga negara, saya mempunyai keyakinan bahwa kami dipaksa melakukan Syari’at. Di Katolik misalnya, tidak menentang Syari’at Islam, tapi Syari’at Islam itu biar urusan masing-masing. Bagaimana kalau wanita Kristen dipaksa mengenakan jilbab?

Hartono Jusuf : Keberatan Pak Frans sudah disebutkan, takut dipaksa melaksanakan Syari’at mengenakan jilbab. Dari kaum Budha, juga ada kekhawatiran, bila Syari’at Islam diterapkan melalui lembaga negara, nanti kami dipaksa supaya sunat (khitan).

Joko Wiyono : Ajaran sunat (khitan) juga ada di dalam agama Katolik. Keluarga saya hampir semuanya Muslim dan sunat, tidak ada masalah.

Ustadz Ba’asyir : Syari’at Islam menjadi UU Negara, gambarannya begini. Misalnya UU wajib shalat 5 waktu, itu hanya berlaku bagi orang Islam, bukan untuk orang Non Islam. Tidak mungkin Non Muslim dipaksa melaksanakan ibadah yang tidak menjadi keyakinan agamanya. Demikian pula soal jilbab, bagi wanita Non Muslimah, bukan saja tidak ada paksaan, tapi mereka malah dilarang untuk meniru cara berpakaian wanita Muslimah agar mereka mudah dikenal. Identitasnya jelas. Silahkan wanita Non Islam berpakaian menurut ajaran agama mereka. Apakah agama Kristen dan Budha menyuruh wanitanya untuk berpakaian telanjang, setengah telanjang seperti budaya barat sekuler itu? Tidak ‘kan? Seperti juga kewajiban zakat, hanya untuk orang Islam saja. Non Muslim tidak bisa diwajibkan zakat. Bayarnya pajak, karena pajak negara. Bahkan, bila kalangan Katolik menuntut adanya UU yang mewajibkan umatnya ke Gereja, maka dibuatkan UU, karena itu keyakinan agamanya.

Irfan S. Awwas : Menurut Pak Fran, bagaimana cara berpakaian wanita yang benar dan sopan menurut ajaran Katolik? Jangan menurut sekuler. bagaimana cara berpakaian yang benar, menurut Budha?

Frans Seda : Ya, mengenakan rok, baju, dan penutup kepala

Chris Siner : Persoalannya, kita berhadapan dengan hak atas kebebasan beragama. Jadi, di kalangan Kristen sendiri memang ada kewajiban orang Kristen untuk berhukum pada agamanya. Tapi kita tidak menggunakan negara untuk melaksanakannya.

Ustadz Ba’asyir : Keyakinan demikian kita hargai. Tidak akan diganggu, tidak akan dipaksa untuk mengamalkan ajaran Kristen di lembaga negara, karena memang begitulah keyakinannya. Karena itu, Anda juga harus menghargai keyakinan kami tentang kewajiban menjalankan Syari’at Islam melalui kekuasaan negara, jangan paksa kami meninggalkannya, atau melakukannya secara individu saja. Di sinilah, diperlukan sikap saling menghargai dan saling memahami.

Ketika masih di penjara Cipinang saya dibesuk seorang Bhiksu, yang menyatakan persetujuannya terhadap Syari’at Islam. “Ustadz –dia panggil saya ustadz- saya mendukung perjuangan Anda untuk menegakan Syari’at Islam,” katanya. Saya terkejut. Saya bilang terimakasih sekali, hanya saya heran anda ini Non Muslim kok setuju penegakan Syariat, alasannya apa? Dia bilang, “Saya ini orang Budha tinggal di Malaysia, bagian negara Kelantan yang dikuasai partai Islam PAS, di situ diberlakukan Syari’at Islam tapi tidak keseluruhan karena ada UU yang melarang, tapi secara umum sudah diberlakukan. Mula-mula kami memang takut, khawatir dipaksa melaksanakan Syari’at Islam, tetapi ternyata semua itu tidak benar. Kami malah diberi kebebasan, dan situasi menjadi tentram dan kami rasakan lebih aman, itulah alasan saya mendukung Ustadz melaksanakan Syariat Islam, demikian Bhiksu itu.

Polikarpus da Lopes: Persoalannya, kalau itu menjadi UU negara, UU positif kita berpaham bahwa itu harus berlaku pada seluruh warga negara.

Irfan S. Awwas : Dalam sejarah konflik di Indonesia, belum pernah umat Islam memusuhi Non Muslim disebabkan perbedaan agama. Dan tidak pernah memaksa Non Muslim untuk pindah agama. Bahkan di zaman DI/TII tidak pernah menjadikan Non Islam sebagai obyek penyerangan hanya karena dia beragama Katolik, Kristen, Hindu, Budha dan lainnya. Sekarang, atas nama kebebasan beragama orang-orang sekuler selalu memojokkan agama sebagai sumber masalah, penyebab konflik antar umat beragama, lalu mereka menuntut supaya tidak fanatik agama, malah dianjurkan untuk tidak berpegang teguh pada ajaran agama, dan menjauhkan negara dari jangkauan agama. Mereka ingin kita beragama tanpa Tuhan atau bertuhan tanpa Syari’at. Sebagai tokoh agama, apakah kita membiarkan paradigma sesat itu mengadu domba umat beragama, atau melawannya supaya agama berperan dominan dalam memperbaiki kehidupan masyarakat sekarang ini?

Berkelakuan Menurut Ajaran Agama

Frans Seda : Begini, kalau saya dipukul atau dimusuhi orang Islam karena keyakinan kita berbeda, bagaimana?

Irfan S. Awwas : Bila itu terjadi, jelas suatu kesalahan, dan kami tidak akan membela orang yang bersalah sekalipun dia Muslim. Sebaliknya, jika ada orang Kristen membunuh atau menyerang orang Islam karena ke-Islaman-nya, Pak Frans akan membela siapa? Dalam kasus eksekusi mati Tibo misalnya, orang Kristen malah membela penjahat yang telah membunuh ratusan santri pesantren Walisongo di Poso.

Harun Rasyid : Kita justru mempertanyakan mengapa sejak dulu tidak ada konflik antar umat beragama. Betulkah yang terjadi di Poso atau tempat lain sekarang ini adalah konflik agama, atau ada provokator yang mengadu domba umat beragama? Pak Frans tadi mengkhawatirkan ada orang Islam yang memukul orang Kristen, apa itu betul-betul orang Islam yang melakukan pemukulan ataukah orang yang mengatasnamakan Islam guna memperkeruh keadaan?

Frans Seda : Saya setuju jika kita berkelakuan seperti ajaran agama kita masing-masing. Setuju sekali. Agama itu adalah pemberian Tuhan kepada umat manusia untuk bergaul satu dengan yang lainnya. Mengapa dulu tidak ada perselisihan? Karena dulu agama tidak pernah menjadi masalah antara kita.

Paulus Harry : Tadinya, dari jauh orang menganggap Mujahidin sebagai Islam radikal, ternyata Mujahidin terbuka, demokrasi, dan idealis. Idealis dan jujur, orang jujur di Indonesia dibenci pak. Jadi, intinya ini mungkin Mujahidin dan Katolik sekarang menghadapi provokator. Ini juga setuju pak.

Frans Seda : Kita bersama-sama menghadapi itu, saya mengharap kebersamaan di antara kita perlu dibangun.

Chris Siner : Saya kasih ilustrasi, tahun 67 saya ada satu wacana dengan saudara Adisasono di Bandung. Persoalan yang sama pula dia omong, hai saudara Chris jangan khawatir karena Piagam Jakarta hanya menyangkut kami orang-orang yang beragama Islam. Saya mengatakan begini, saya juga ingin memperjuangkan saudara-saudara sesama bangsa yang Islam yang tidak mau dipaksa dalam soal agama, jadi saya juga memperjuangkan hal semacam itu. Saya tidak khawatir soal Piagam Jakarta. Tapi kalau ada warga negara beragama Islam, tapi dia tidak mau dipaksa oleh negara melaksanakan Syari’at Islam, bagaimana?

Ustadz Ba’asyir : Negara hanya alat, antara lain untuk mengingatkan kewajiban agama menggunakan alatnya berupa UU. Bukan negara yang memaksa, tapi tugas negara mendorong rakyatnya untuk menjalankan kewajiban agamanya, dan bila ditinggalkan negara menjatuhkan sanksi. Jadi negara Islam adalah sebagai alat untuk menjalankan Syari’at Islam.

Irfan S. Awwas : Berkaitan dengan persoalan ini, ada pertanyaan untuk pak Chris. Ketika satu urusan diwajibkan oleh agama masing-masing, tetapi kemudian negara melarang itu dengan alasan bertentangan dengan UU. Sebagai warga negara yang mau taat beragama tetapi juga tidak mau melanggar UU negara, manakah yang harus diutamakan?

Frans Seda : Terserah keperluan masing-masing.

Irfan S. Awwas : Anda tadi menyatakan sepakat dengan pelaksanaan Syari’at Islam melalui kekuasaan negara dengan syarat tidak ada paksaan terhadap penganut agama lain. Dan sudah diterangkan tidak ada paksaan dalam hal keyakinan. Syari’at Islam untuk umat Islam, tidak boleh memaksa Non Muslim melaksanakan ajaran agama yang bertentangan dengan keyakinannya.

Frans Seda : Tapi ini kekuasaan, siapa menjamin nantinya tidak ada paksaan?

Irfan S. Awwas : Islam yang memberi jaminan. Juga, negara dan kekuasaan pemerintah yang berpegang teguh pada Syari’at Islam.

Frans Seda : Saya tidak yakin itu.

Irfan S. Awwas : Anda menolak secara apriori jaminan Islam dan pemerintah Islam terhadap kebebasan beragama, padahal Islam belum berkuasa dan Syari’at Islam belum dijadikan UU negara. Sementara Anda percaya adanya kebebasan beragama atas jaminan demokrasi dan pemerintahan demokratis? Bukankah pemerintah demokratis seperti Amerika, Inggris dan lainnya terus menerus memaksakan kehendaknya terhadap umat Islam?

Chris Siner : Sekiranya Islam itu satu, gampang sekali kita menjalankan ini. Tapi dalam realita yang kita lihat kan ada bermacam-macam Islam, dan sikap umat Islam juga beda-beda. Itu bagaiman?

Irfan S. Awwas : Seluruh orang Islam meyakini Islam itu hanya satu, bukan warna warni. Berbeda-bedanya sikap umat Islam terhadap kewajiban menerapkan Syari’at Islam melalui lembaga negara merupakan problem internal umat Islam. Perbedaan, bahkan perpecahan umat bukan hanya ada pada umat Islam, tapi juga pada penganut agama lain. Agama Nashrani pecah menjadi agama Katolik dan agama Protestan, mungkin juga masih banyak pecahan lainnya. Perbedaan sikap di kalangan umat Islam terjadi justru akibat Syari’at Islam dihambat berlakunya dalam lembaga negara. Sebagai negara yang penduduknya mayoritas beragama Islam, jika pemerintah menerima Syari’at Islam sebagai UU, semua orang Islam akan sami’na wa atha’na (mendengar dan mentaati) pemerintah Islam tersebut.

Frans Seda : Mayoritasnya di mana? Indonesia terdiri dari beribu-ribu pulau.

Ustadz Ba’asyir : Mayoritas di seluruh NKRI. Betul, Indonesia terdiri dari banyak pulau, tapi Anda ‘kan setuju jadi bagian NKRI. Nah, dalam konteks NKRI, umat Islam mayoritas mutlak. Saya minta dimengerti, melaksanakan Islam dalam bentuk UU itu suatu keyakinan, bukan politik. Dampaknya berpengaruh bagi nasib di akhirat nanti, masuk surga atau neraka.

Polikarpus da Lopes : Kalau pak kyai ngomong begitu, kita mengerti betul. Solusi dan alternatif pak kyai kita setuju. Adapun ada hal yang kita belum sepaham, perlu dilakukan dialog.

Barnabas Hura : Pertama, saya melanjutkan usulan pak Frans, jadi hal-hal yang masih berbeda kita dialogkan lagi. Kita sepakat untuk mengisi kemerdekaan yang sekarang bangsa kita begitu terpuruk. Kalau mengingat perkataan Syafi’i Ma’arif, bangsa ini dalam kebobrokan yang amat parah. Ini kewajiban kita bersama untuk mengatasi kemiskinan dan kebodohan itu harus jadi program bersama. Kedua, tadi yang disinggung oleh Pak Frans, perbedaan ini tidak akan saling mempersoalkan, kemungkinan ada pihak lain yang memanipulasi perbedaan ini.

Irfan S. Awwas : Sekarang, apa yang menjadi kepentingan bersama, tentu harus dilaksanakan bersama sebagai sesama warga negara. Tapi, dalam wilayah keyakinan, maka negara tidak boleh memaksa warganya untuk ingkar dari keyakinannya. Sementara ini di kalangan umat beragama, ada kesan bahwa sebaik apapun aturan bila datangnya dari Islam atau bernuansa Islam, mesti ditolak pihak Non Islam.

Polikarpus da Lopes : Bisa kasih contoh Pak?

Irfan S. Awwas : Misalnya, RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi. Mengapa penolakan dari kalangan Kristen sedemikian gencarnya, termasuk Perda Antimaksiat yang berlaku di sejumlah daerah dalam rangka mewujudkan otonomi daerah?

Polikarpus da Lopes : Mungkin istilah Syari’ah yang menakutkan.

Irfan S. Awwas : Tidak juga. Kesan yang menonjol adalah sikap subyektif kalangan Non Muslim. Sebagus apapun suatu aturan bila datang dari Islam atau bernuansa Islam selalu ditolak. Dalam RUU APP maupun Perda Antimaksiat tidak terdapat kata-kata Syari’ah, toh ditolak juga. Sikap ini tidak kondusif bagi upaya bersama untuk memperbaiki moral bangsa yang dikatakan tadi, amat sangat bobrok.

Frans Seda : Saya sebagai orang Katolik setuju dengan syari’at Islam yang tidak dipaksakan. Saya kira masing-masing kita bisa ‘silaturrahmi’ dan pertemuan kali ini tidak yang terakhir, ya? Kita kembangkan dialognya.

Bersama harapan itu, Frans Seda meninggalkan ruangan sesaat sebelum pertemuan berakhir. “Saya sudah tua, sering sakit, tak bisa duduk berlama-lama,” katanya.

Majalah RISALAH MUJAHIDIN No. 3 Th I Dzulqa’dah 1427 H / Desember 2006, hal. 41-50.



Teka-Teki Pertemuan Perdana Obama dan Bush
November 11, 2008, 12:20 pm
Filed under: Politik

Presiden terpilih AS, Barack Obama, dan istrinya, Michelle, disambut oleh Presiden George W. Bush dan Ibu Negara Laura Bush di Gedung Putih, hari Senin. Obama dan Bush berjabat tangan, sementara istri mereka berpelukan, sebelum mereka berfoto di luar gedung eksekutif itu.

Bush kemudian membawa Obama ke Ruang Oval untuk pembicaraan pribadi yang mungkin mencakup masalah ekonomi yang gonjang-ganjing, perang Irak dan Afghanistan serta ancaman teroris. Dalam acara tersebut, Bush untuk pertama kalinya menemui Obama sejak ia terpilih sebagai presiden mendatang AS. Kunjungan presiden terpilih AS ke Gedung Puting sebelum pelantikan resmi merupakan tradisi di negeri Paman Sam. Akan tetapi tradisi tersebut dilakukan lebih cepat dari biasanya. Kunjungan Obama ke Gedung Putih itu dilakukan setelah Obama pekan lalu dipastikan sebagai presiden mendatang AS. Menanggapi dipercepatnya tradisi kunjungan presiden terpilih AS ke Gedung Putih, para pakar politik menyebut krisis saat ini sebagai alasannya.

 

Meski detail perundingan antara Bush dan Obama di Gedung Putih, Senin malam, tidak dipublikasikan, tapi Juru Bicara Gedung Putih menyatakan bahwa kedua pihak membahas berbagai masalah dalam negeri dan luar negeri. Sebagian besar media massa memprediksikan bahwa krisis keuangan global, perang Irak dan Afghanistan adalah topik-topik yang dibahas dalam perundingan antara presiden saat ini dan mendatang AS.

 

70 hari lagi, Obama akan memasuki Gedung Putih dan secara resmi mengendalikan pemerintah negeri Paman Sam. Bush pun akan menyerahkan kendalinya secara penuh kepada presiden terpilih AS. Kondisi saat ini di AS menuntut transisi kekuasaan harus dilakukan dengan cepat. Obama akan menghadapi berbagai problema sebenarnya setelah secara resmi menjabat sebagai presiden AS. Dalam 80 tahun terakhir ini, tidak ada presiden yang mempunyai tantangan sebesar Obama dalam mengendalikan pemerintahan negeri ini.

 

Saat ini, AS dihadapkan pada defisit anggaran, pengangguran, dan kebangkrutan. Krisis keuangan di Wall Street telah menghantarkan tingkat defisit anggaran pemerintah federal AS dan defisit neraca perdagangan hingga 1,7 trilyun dolar AS. Lebih dari itu, tingkat hutang negara melampui 11 trilyun dolar AS.

 

Selain problema dalam negeri, AS juga dihadapkan pada dampak kekeliruan kebijakan luar negeri Washington. Perang Irak dan Afghanistan telah menyedot biaya yang sangat besar. Kedua perang tersebut terjadi di masa kepresidenan George W. Bush. Kini, Presiden Bush ingin menjadikan Obama sebagai penerus kebijakannya. Obama berulangkali menyatakan penentangannya atas perang Irak. 70 hari lagi, Obama akan menjadi panglima tertinggi negeri Paman Sam. Saat itu, ia terpaksa akan mengendalikan perang di Irak dan Afghanistan. Masalah-masalah inilah yang membuat pertemuan antara Obama dan Bush menjadi topik utama media-media massa.



Perundingan Uni Eropa dan Rusia; Konklusi Nilai Tawar Imbang
November 11, 2008, 12:09 pm
Filed under: Politik

Usulan Komisi Eropa soal pelaksanaan perundingan dengan Rusia disepakati di sidang para menteri luar negeri Uni Eropa. Perundingan tersebut akan digelar dengan tujuan membahas penandatanganan kesepakatan kerjasama strategis antara Rusia dan Uni Eropa. Moskow sendiri menyambut baik perundingan tersebut.

 

Kesepakatan kerjasama sebelumnya antara Rusia dan Eropa telah berakhir pada bulan Desember 2007. Penandatanganan kesepakatan kerjasama baru kedua pihak dipermasalahkan sejumlah negara Eropa menyusul perselisihan politik dan ekonomi antara Moskow dan Uni Eropa dan langkah militer yang dilakukan Rusia di Georgia. Terlebih, Polandia dan Lithuania yang keduanya adalah dua negara anggota Uni Eropa menuding Rusia tidak berkomitmen dengan kesepakatan gencatan senjata usulan Uni Eropa mengenai perang Georgia. Untuk itu, kedua negara tersebut menentang perundingan dengan Rusia.

 

Namun setelah sejumlah pejabat Uni Eropa melobi Polandia, negara ini menganulir penentangannya atas perundingan antara Rusia dan Uni Eropa. Sementara itu, Lithuania dalam sidang Brussel tetap bersikeras menentang perundingan tersebut. Meski demikian, sikap anti pati Lithuania tidak dapat menjadi penghalang perundingan Uni Eropa dan Rusia. Akan tetapi dari sisi politik, friksi internal antaranggota Uni Eropa menjadi catatan tersendiri.

 

Sederet masalah seperti perluasan wilayah Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), penempatan sistem anti-rudal AS di Eropa Timur, kemerdekaan Kosovo, serta hubungan Ossetia Selatan dan Abkhazia dengan Rusia, adalah di antara kendala-kendala serius antara Rusia dan Uni Eropa, yang membuat kedua pihak tidak dapat menyelesaikan berbagai masalah sejak runtuhnya Uni Soviet hingga kini. Meski demikian, Uni Eropa dan Rusia tidak dapat mengesampingkan kepentingan masing-masing. Sebab, Rusia masih diakui sebagai negara adidaya di sektor militer dan nuklir. Tentu saja, pengucilan terhadap Rusia sama halnya dengan instabilitas di Uni Eropa. Selain itu, Rusia juga memasok 40 persen kebutuhan energi Eropa.

 

Di tengah kondisi seperti ini, Eropa cenderung menyelesaikan berbagai masalah malalui perundingan dengan Rusia. Ini merupakan satu-satunya jalan yang harus ditempuh oleh Uni Eropa. Sementara itu, Uni Eropa adalah mitra bisnis terbesar bagi Rusia. Dengan menjalin hubungan dengan Uni Eropa, Moskow berupaya memainkan peran penting dalam perimbangan internasional di benua Eropa.

 

Memperhatikan peta politik tersebut, para pemimpin tinggi Rusia dan Uni Eropa tidak mempunyai solusi lain kecuali melakukan perundingan, yang menurut rencana akan digelar di Perancis, tanggal 14 November. Perundingan tersebut akan membahas krisis keuangan global menjelang pelaksanaan sidang kelompok 20 di Washington.

 

Pada intinya, Rusia dan Uni Eropa berupaya akan menjaga kepentingan masing-masing, mengingat kedua pihak saling membutuhkan satu sama lain. Tentunya, perkembangan hubungan antara Rusia dan Uni Eropa bergantung pada konsensus 27 negara anggota organisasi ini.

 



Berapakah Usia Aishah Saat Dinikahi Rasulullah Saww?
November 11, 2008, 7:58 am
Filed under: Kajian

Berapa Usia Aisha Ketika Dinikahi oleh Rasulullah?

 

Seorang teman kristen suatu kali bertanya kepada saya, “Akankah anda menikahkan saudara perempuanmu yang berumur 7 tahun dengan seorang tua berumur 50 tahun?” Saya terdiam.Dia melanjutkan, “Jika anda tidak akan melakukannya, bagaimana bisa anda menyetujui pernikahan gadis polos berumur 7 tahun, Aisyah, dengan Nabi anda?” Saya katakan padanya, “Saya tidak punya jawaban untuk pertanyaan anda pada saat ini.” Teman saya tersenyum dan meninggalkan saya dengan guncangan dalam batin saya akan agama saya.

Kebanyakan muslim menjawab bahwa pernikahan seperti itu diterima masyarakat pada saat itu. Jika tidak, orang-orang akan merasa keberatan dengan pernikahan Nabi saw dengan Aisyah.

Bagaimanapun, penjelasan seperti ini akan mudah menipu bagi orang-orang yang naif dalam mempercayainya. Tetapi, saya tidak cukup puas dengan penjelasan seperti itu.

Nabi merupakan manusia tauladan, Semua tindakannya paling patut dicontoh sehingga kita, Muslim dapat meneladaninya. Bagaimaanpun, kebanyakan orang di Islamic Center of Toledo, termasuk saya, Tidak akan berpikir untuk menunangkan saudara perempuan kita yang berumur 7 tahun dengan seorang laki-laki berumur 50 tahun. Jika orang tua setuju dengan pernikahan seperti itu, kebanyakan orang, walaupun tidak semuanya, akan memandang rendah terhadap orang tua dan suami tua tersebut.

Tahun 1923, pencatat pernikahan di Mesir diberi intruksi untuk menolak pendaftaran dan menolak mengeluarkan surat nikah bagi calon suami berumur di bawah 18 tahun, dan calon isteri dibawah 16 tahun. Tahun 1931, Sidang dalam oraganisasi- oraganisi hukum dan syariah menetapkan untuk tidak merespon pernikahan bagi pasangan dengan umur diatas (Women in Muslim Family Law, John Esposito, 1982). Ini memperlihatkan bahwa walaupun di negara Mesir yang mayoritas Muslim pernikahan usia anak-anak adalah tidak dapat diterima.

Jadi, Saya percaya, tanpa bukti yang solidpun selain perhormatan saya terhadap Nabi, bahwa cerita pernikahan gadis brumur 7 tahun dengan Nabi berumur 50 tahun adalah mitos semata. Bagaimanapun perjalanan panjang saya dalam menyelelidiki kebenaran atas hal ini membuktikan intuisi saya benar adanya.

Nabi memang seorang yang gentleman. Dan dia tidak menikahi gadis polos berumur 7 atau 9 tahun. Umur Aisyah telah dicatat secara salah dalam literatur hadist. Lebih jauh, Saya pikir bahwa cerita yang menyebutkan hal ini sangatlah tidak bisa dipercaya.

Beberapa hadist (tradisi Nabi) yang menceritakan mengenai umur Aisyah pada saat pernikahannya dengan Nabi, hadist-hadist tersebut sangat bermasalah. Saya akan menyajikan beberapa bukti melawan khayalan yang diceritakan Hisham ibnu `Urwah dan untuk membersihkan nama Nabi dari sebutan seorang tua yang tidak bertanggung jawab yang menikahi gadis polos berumur 7 tahun.

Bukti #1: Pengujian Terhadap Sumber

Sebagian besar riwayat yang menceritakan hal ini yang tercetak di hadist yang semuanya diriwayatkan hanya oleh Hisham ibn `Urwah, yang mencatat atas otoritas dari bapaknya, yang mana seharusnya minimal 2 atau 3 orang harus mencatat hadist serupa juga. Adalah aneh bahwa tak
ada seorangpun yang di Medinah, dimana Hisham ibn `Urwah tinggal, sampai usia 71 tahun baru menceritakan hal ini, disamping kenyataan adanya banyak murid-murid di Medinah termasuk yang kesohor Malik ibn Anas, tidak menceritakan hal ini. Asal dari riwayat ini adalah dari orang-orang Iraq, di mana Hisham tinggal disana dan pindah dari Medinah ke Iraq pada usia tua.

Tehzibu’l-Tehzib, salah satu buku yang cukup terkenal yang berisi catatan para periwayat hadist, menurut Yaqub ibn Shaibah mencatat : “Hisham sangat bisa dipercaya, riwayatnya dapat diterima, kecuali apa-apa yang dia ceritakan setelah pindah ke Iraq ” (Tehzi’bu’l- tehzi’b, Ibn Hajar Al-`asqala’ni, Dar Ihya al-turath al-Islami, 15th century. Vol 11, p.50).

Dalam pernyataan lebih lanjut bahwa Malik ibn Anas menolak riwayat Hisham yang dicatat dari orang-orang Iraq: ” Saya pernah diberi tahu bahwa Malik menolak riwayat Hisham yang dicatat dari orang-orang Iraq” (Tehzi’b u’l-tehzi’b, IbnHajar Al- `asqala’ni, Dar Ihya al-turath al-Islami, Vol.11, p. 50).

Mizanu’l-ai` tidal, buku lain yang berisi uraian riwayat hidup pada periwayat hadist Nabi saw mencatat: “Ketika masa tua, ingatan Hisham mengalami kemunduran yang mencolok” (Mizanu’l-ai` tidal, Al-Zahbi, Al-Maktabatu’ l-athriyyah, Sheikhupura, Pakistan, Vol. 4, p. 301).

KESIMPULAN:
berdasarkan referensi ini, Ingatan Hisham sangatlah buruk dan riwayatnya setelah pindah ke Iraq sangat tidak bisa dipercaya, sehingga riwayatnya mengenai umur pernikahan Aisyah adalah tidak
kredibel.

KRONOLOGI: Adalah vital untuk mencatat dan mengingat tanggal penting dalam sejarah Islam:

Pra-610 M: Jahiliyah (pra-Islamic era) sebelum turun wahyu
610 M: turun wahyu pertama Abu Bakr menerima Islam
613 M: Nabi Muhammad mulai mengajar ke Masyarakat
615 M: Hijrah ke Abyssinia.
616 M: Umar bin al Khattab menerima Islam.
620 M: dikatakan Nabi meminang Aisyah
622 M: Hijrah ke Yathrib, kemudian dinamai Medina
623/624 M: dikatakan Nabi saw berumah tangga dengan Aisyah

Bukti #2: Meminang

Menurut Tabari (juga menurut Hisham ibn `Urwah, Ibn Hunbal and Ibn Sad), Aisyah dipinang pada usia 7 tahun dan mulai berumah tangga pada usia 9 tahun.

Tetapi, di bagian lain, Al-Tabari mengatakan: “Semua anak Abu Bakr (4 orang) dilahirkan pada masa jahiliyahh dari 2 isterinya ” (Tarikhu’l-umam wa’l-mamlu’k, Al-Tabari (died 922), Vol. 4,p. 50, Arabic, Dara’l-fikr, Beirut, 1979).

Jika Aisyah dipinang 620M (Aisyah umur 7 tahun) dan berumah tangga tahun 623/624 M (usia 9 tahun), ini mengindikasikan bahwa Aisyah dilahirkan pada 613 M. Sehingga berdasarkan tulisan Al- Tabari, Aisyah seharusnya dilahirkan pada 613M, Yaitu 3 tahun sesudah masa Jahiliyahh usai (610 M).

Tabari juga menyatakan bahwa Aisyah dilahirkan pada saat Jahiliyah. Jika Aisyah dilahirkan pada era Jahiliyah, seharusnya minimal Aisyah berumur 14 tahun ketika dinikah. Tetapi intinya Tabari mengalami kontradiksi dalam periwayatannya.

KESIMPULAN: Al-Tabari tak reliable mengenai umur Aisyah ketika menikah.

Bukti # 3: Umur Aisyah jika dihubungkan dengan umur Fatimah

Menurut Ibn Hajar, “Fatima dilahirkan ketika Ka`bah dibangun kembali, ketika Nabi saw berusia 35 tahun… Fatimah 5 tahun lebih tua dari Aisyah” (Al-isabah fi tamyizi’l-sahabah, Ibn Hajar al- Asqalani, Vol. 4, p. 377, Maktabatu’l- Riyadh al-haditha, al-Riyadh,1978) .

Jika Statement Ibn Hajar adalah factual, berarti Aisyah dilahirkan ketika Nabi berusia 40 tahun. Jika Aisyah dinikahi Nabi pada saat usia Nabi 52 tahun, maka usia Aisyah ketika menikah adalah 12 tahun.

KESIMPULAN: Ibn Hajar, Tabari, Ibn Hisham, dan Ibn Humbal kontradiksi satu sama lain. Tetapi tampak nyata bahwa riwayat Aisyah menikah usia 7 tahun adalah mitos tak berdasar.

Bukti #4: Umur Aisyah dihitung dari umur Asma’

Menurut Abda’l-Rahman ibn abi zanna’d: “Asma lebih tua 10 tahun dibanding Aisyah (Siyar A`la’ma’l-nubala’ , Al-Zahabi, Vol. 2, p. 289, Arabic, Mu’assasatu’ l-risalah, Beirut, 1992).

Menurut Ibn Kathir: “Asma lebih tua 10 tahun dari adiknya [Aisyah]” (Al-Bidayah wa’l-nihayah, Ibn Kathir, Vol. 8, p. 371,Dar al-fikr al-`arabi, Al-jizah, 1933).

Menurut Ibn Kathir: “Asma melihat pembunuhan anaknya pada tahun 73 H, dan 5 hari kemudian Asma meninggal. Menurut iwayat lainya, dia meninggal 10 atau 20 hari kemudian, atau beberapa hari lebih dari 20 hari, atau 100 hari kemudian. Riwayat yang paling kuat adalah 100 hari kemudian. Pada waktu Asma Meninggal, dia berusia 100 tahun” (Al-Bidayah wa’l-nihayah, Ibn Kathir, Vol. 8, p. 372, Dar al-fikr al-`arabi, Al- jizah, 1933)

Menurut Ibn Hajar Al-Asqalani: “Asma hidup sampai 100 tahun dan meninggal pada 73 or 74 H.” (Taqribu’l-tehzib, Ibn Hajar Al-Asqalani, p. 654, Arabic, Bab fi’l-nisa’, al-harfu’l-alif, Lucknow).

Menurut sebagaian besar ahli sejarah, Asma, Saudara tertua dari Aisyah berselisih usia 10 tahun. Jika Asma wafat pada usia 100 tahun dia tahun 73 H, Asma seharusnya berusia 27 atau 28 tahun ketika hijrah 622M).

Jika Asma berusia 27 atau 28 tahun ketika hijrah (ketika Aisyah berumah tangga), Aisyah seharusnya berusia 17 atau 18 tahun. Jadi, Aisyah, berusia 17 atau 18 tahun ketika hijrah pada taun dimana Aisyah berumah tangga.

Berdasarkan Hajar, Ibn Katir, and Abda’l-Rahman ibn abi zanna’d, usia Aisyah ketika beliau berumah tangga dengan Rasulullah adalah 19 atau 20 tahun.

Dalam bukti # 3, Ibn Hajar memperkirakan usia Aisyah 12 tahun dan dalam bukti #4 Ibn Hajar mengkontradiksi dirinya sendiri dengan pernyataannya usia Aisyah 17 atau 18 tahun. Jadi mana usia yang benar ? 12 atau 18..?

KESIMPULAN: Ibn Hajar tidak valid dalam periwayatan usia Aisyah.

Bukti #5: Perang BADAR dan UHUD

Sebuah riwayat mengenai partisipasi Aisyah dalam perang Badr dijabarkan dalam hadist Muslim, (Kitabu’l-jihad wa’l-siyar, Bab karahiyati’l- isti`anah fi’l-ghazwi bikafir). Aisyah, ketika menceritakan salah satu moment penting dalam perjalanan selama perang Badar, mengatakan: “ketika kita mencapai Shajarah”. Dari pernyataan ini tampak jelas, Aisyah merupakan anggota perjalanan menuju Badar.

Sebuah riwayat mengenai pastisipasi Aisyah dalam Uhud tercatat dalam Bukhari (Kitabu’l-jihad wa’l-siyar, Bab Ghazwi’l-nisa’ wa qitalihinnama` a’lrijal) : “Anas mencatat bahwa pada hari Uhud, Orang-orang tidak dapat berdiri dekat Rasulullah. [pada hari itu,] Saya melihat Aisyah dan Umm-i-Sulaim dari jauh, Mereka menyingsingkan sedikit pakaian-nya [untuk mencegah halangan gerak dalam perjalanan tsb].”

Lagi-lagi, hal ini menunjukkan bahwa Aisyah ikut berada dalam perang Uhud dan Badr.

Diriwayatkan oleh Bukhari (Kitabu’l-maghazi, Bab Ghazwati’l-khandaq wa hiya’l-ahza’ b): “Ibn `Umar menyatakan bahwa Rasulullah tidak mengijinkan dirinya berpastisispasi dalam Uhud, pada ketika itu, Ibnu Umar berusia 14 tahun. Tetapi ketika perang Khandaq, ketika berusia 15 tahun, Nabi mengijinkan Ibnu Umar ikut dalam perang tsb.”

Berdasarkan riwayat diatas, (a) anak-anak berusia dibawah 15 tahun akan dipulangkan dan tidak diperbolehkan ikut dalam perang, dan (b) Aisyah ikut dalam perang badar dan Uhud

KESIMPULAN: Aisyah ikut dalam perang Badar dan Uhud jelas mengindikasikan bahwa beliau tidak berusia 9 tahun ketika itu, tetapi minimal berusia 15 tahun. Disamping itu, wanita-wanita yang ikut menemani para pria dalam perang sudah seharusnya berfungsi untuk membantu, bukan untuk menambah beban bagi mereka. Ini merupakan bukti lain dari kontradiksi usia pernikahan Aisyah.

BUKTI #6: Surat al-Qamar (Bulan)

Menurut beberapa riwayat, Aisyah dilahirkan pada tahun ke delapan sebelum hijriyah. Tetapi menurut sumber lain dalam Bukhari, Aisyah tercatat mengatakan hal ini: “Saya seorang gadis muda(jariyah dalam bahasa arab)” ketika Surah Al-Qamar diturunkan(Sahih Bukhari, Kitabu’l-tafsir, Bab Qaulihi Bal al-sa`atu Maw`iduhum wa’l-sa`atu adha’ wa amarr).

Surat 54 dari Quran diturunkan pada tahun ke delapan sebelum hijriyah(The Bounteous Koran, M.M. Khatib, 1985), menunjukkan bahwa surat tsb diturunkan pada tahun 614 M. jika Aisyah memulai berumahtangga dengan Rasulullah pada usia 9 di tahun 623 M or 624 M, Aisyah masih bayi yang baru lahir (sibyah in Arabic) pada saat Surah Al-Qamar diturunkan. Menurut riwayat diatas, secara aktual tampak bahwa Aisyah adalah gadis muda, bukan bayi yang baru lahir ketika pewahyuan Al-Qamar. Jariyah berarti gadis muda yang masih suka bermain (Lane’s Arabic English Lexicon).

Jadi, Aisyah, telah menjadi jariyah bukan sibyah (bayi), jadi telah berusia 6-13 tahun pada saat turunnya surah Al-Qamar, dan oleh karena itu sudah pasti berusia 14-21 tahun ketika dinikah Nabi.

KESIMPULAN: Riwayat ini juga mengkontra riwayat pernikahan Aisyah yang berusia 9 tahun.

Bukti #7: Terminologi bahasa Arab

Menurut riwayat dari Ahmad ibn Hanbal, sesudah meninggalnya isteri pertama Rasulullah, Khadijah, Khaulah datang kepada Nabi dan menasehati Nabi untuk menikah lagi, Nabi bertanya kepadanya tentang pilihan yang ada di pikiran Khaulah. Khaulah berkata: “Anda dapat menikahi seorang gadis (bikr) atau seorang wanita yang pernah menikah (thayyib)”. Ketika Nabi bertanya tentang identitas gadis tersebut (bikr), Khaulah menyebutkan nama Aisyah.

Bagi orang yang paham bahasa Arab akan segera melihat bahwa kata bikr dalam bahasa Arab tidak digunakan untuk gadis belia berusia 9 tahun.

Kata yang tepat untuk gadis belia yang masih suka bermain-main adalah, seperti dinyatakan dimuka, adalah jariyah. Bikr disisi lain, digunakan untuk seorang wanita yang belum menikah serta belum punya pertautan pengalaman dengan pernikahan, sebagaimana kita pahami dalam bahasa Inggris “virgin”. Oleh karena itu, tampak jelas bahwa gadis belia 9 tahun bukanlah “wanita” (bikr) (Musnad Ahmad ibn Hanbal, Vol. 6, p. .210,Arabic, Dar Ihya al-turath al-`arabi, Beirut).

Kesimpulan: Arti literal dari kata, bikr (gadis), dalam hadist diatas adalah “wanita dewasa yang belum punya pengalaman sexual dalam pernikahan.” Oleh karena itu, Aisyah adalah seorang wanita dewasa pada waktu menikahnya.

Bukti #8. Text Qur’an

Seluruh muslim setuju bahwa Quran adalah buku petunjuk. Jadi, kita perlu mencari petunjuk dari Qur’an untuk membersihkan kabut kebingungan yang diciptakan oleh para periwayat pada periode klasik Islam mengenai usia Aisyah dan pernikahannya. Apakah Quran mengijinkan atau melarang pernikahan dari gadis belia berusia 7 tahun?

Tak ada ayat yang secara eksplisit mengijinkan pernikahan seperti itu. Ada sebuah ayat, yang bagaimanapun, yang menuntun muslim dalam mendidik dan memperlakukan anak yatim. Petunjuk Qur’an mengenai perlakuan anak Yatim juga valid diaplikasikan ada anak kita sendiri sendiri.

Ayat tersebut mengatakan : Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik. (Qs. 4:5) Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin.

Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. ?? (Qs. 4:6)

Dalam hal seorang anak yang ditingal orang tuanya, Seorang muslim diperintahkan untuk (a) memberi makan mereka, (b) memberi pakaian, (c) mendidik mereka, dan (d) menguji mereka thd kedewasaan “sampai usia menikah” sebelum mempercayakan mereka dalam pengelolaan keuangan.

Disini, ayat Qur’an menyatakan tentang butuhnya bukti yang teliti terhadap tingkat kedewasaan intelektual dan fisik melalui hasil test yang objektif sebelum memasuki usia nikah dan untuk mempercayakan pengelolaan harta-harta kepada mereka.

Dalam ayat yang sangat jelas diatas, tidak ada seorangpun dari muslim yang bertanggungjawab akan melakukan pengalihan pengelolaan keuangan pada seorang gadis belia berusia 7 tahun. Jika kita tidak bisa mempercayai gadis belia berusia 7 tahun dalam pengelolaan keuangan, Gadis tersebut secara tidak memenuhi syarat secara intelektual maupun fisik untuk menikah. Ibn Hambal (Musnad Ahmad ibn Hambal, vol.6, p. 33 and 99) menyatakan bahwa Aisyah yang berusia 9 tahun lebih tertarik untuk bermain dengan mainannya daripada mengambil tugas sebagai isteri.

Oleh karena itu sangatlah sulit untuk mempercayai, bahwa Abu Bakar,seorang tokoh muslim, akan menunangkan anaknya yang masih belia berusia 7 taun dengan Nabi yang berusia 50 tahun.. Sama sulitnya untuk membayangkan bahwa Nabi menikahi seorang gadis belia berusia 7 tahun.

Sebuah tugas penting lain dalam menjaga anak adalah mendidiknya. Marilah kita memunculkan sebuah pertanyaan,” berapa banyak di antara kita yang percaya bahwa kita dapat mendidik anak kita dengan hasil memuaskan sebelum mereka mencapai usia 7 atau 9 tahun?” Jawabannya adalah Nol besar.

Logika kita berkata, adalah tidak mungkin tugas mendidik anak kita dengan memuaskan sebelum mereka mencapai usia 7 tahun, lalu bagaimana mana mungkin kita percaya bahwa Aisyah telah dididik secara sempurna pada usia 7 tahun seperti diklaim sebagai usia pernikahannya?

Abu Bakr merupakan seorang yang jauh lebih bijaksana dari kita semua, Jadi dia akan merasa dalam hatinya bahwa Aisyah masih seorang anak-anak yang belum secara sempurna sebagaimana dinyatakan Qur’an. Abu Bakar tidak akan menikahkan Aisyah kepada seorangpun. Jika sebuah proposal pernikahan dari gadis belia dan belum terdidik secara memuaskan datang kepada Nabi, Beliau akan menolak dengan tegas karena itu menentang hukum-hukum Quran.

KESIMPULAN: Pernikahan Aisyah pada usia 7 tahun akan menentang hukum kedewasaan yang dinyatakan Quran. Oleh karena itu, Cerita pernikahan Aisyah gadis belia berusia 7 tahun adalah mitos semata.

Bukti #9: Ijin dalam pernikahan

Seorang wanita harus ditanya dan diminta persetujuan agar pernikahan yang dia lakukan menjadi syah (Mishakat al Masabiah, translation by James Robson, Vol. I, p. 665). Secara Islami, persetujuan yang kredible dari seorang wanita merupakan syarat dasar bagi kesyahan sebuah pernikahan.

Dengan mengembangkan kondisi logis ini, persetujuan yang diberikan oleh gadis belum dewasa berusia 7 tahun tidak dapat diautorisasi sebagai validitas sebuah pernikahan.

Adalah tidak terbayangkan bahwa Abu Bakr, seorang laki-laki yang cerdas, akan berpikir dan mananggapi secara keras tentang persetujuan pernikahan gadis 7 tahun (anaknya sendiri) dengan seorang laki-laki berusia 50 tahun.

Serupa dengan ini, Nabi tidak mungkin menerima persetujuan dari seorang gadis yang menurut hadith dari Muslim, masih suka bermain-main dengan bonekanya ketika berumah tangga dengan Rasulullah.

KESIMPULAN: Rasulullah tidak menikahi gadis berusia 7 tahun karena akan tidak memenuhi syarat dasar sebuah pernikahan islami tentang klausa persetujuan dari pihak isteri. Oleh karena itu, hanya ada satu kemungkinan Nabi menikahi Aisyah seorang wanita yang dewasa secara intelektual maupun fisik.

Summary:
Tidak ada tradisi Arab untuk menikahkan anak perempuan atau laki-laki yang berusia 9 tahun, Demikian juga tidak ada pernikahan Rasulullah SAW dan Aisyah ketika berusia 9 tahun. Orang-orang arab tidak pernah keberatan dengan pernikahan seperti ini, karena ini tak pernah terjadi sebagaimana isi beberapa riwayat.

Jelas nyata, riwayat pernikahan Aisyah pada usia 9 tahun oleh Hisham ibn `Urwah tidak bisa dianggap sebagai kebenaran, dan kontradisksi dengan riwayat-riwayat lain. Lebih jauh, tidak ada alasan yang nyata untuk menerima riwayat Hisham ibn `Urwah sebagai kebenaran ketika para pakar lain, termasuk Malik ibn Anas, melihat riwayat Hisham ibn `Urwah selama di Iraq adalah tidak reliable.

Pernyataan dari Tabari, Bukhari dan Muslim menunjukkan mereka kontradiksi satu sama lain mengenai usia menikah bagi Aisyah. Lebih jauh, beberapa pakar periwayat mengalami internal kontradiksi dengan riwayat-riwayatnya sendiri. Jadi, riwayat usia Aisyah 9 tahun ketika menikah adalah tidak reliable karena adanya kontradiksi yang nyata pada catatan klasik dari pakar sejarah Islam.

Oleh karena itu, tidak ada alasan absolut untuk menerima dan mempercayai usia Aisyah 9 tahun ketika menikah sebagai sebuah kebenaran disebabkan cukup banyak latar belakang untuk menolak riwayat tsb dan lebih layak disebut sebagai mitos semata. Lebih jauh, Qur’an menolak pernikahan gadis dan lelaki yang belum dewasa sebagaimana tidak layak membebankan kepada mereka tanggung jawab-tanggung jawab.

Note: The Ancient Myth Exposed
By T.O. Shanavas , di Michigan.
(c) 2001 Minaret
from The Minaret Source: http://www.iiie. net/node/ 58

 

http://Budhiana. blogspot. com
http://Menulisituas yik.com
http://karikatut. blogspot. com



Iran: Perubahan AS Harus Jadi Acuan Strategi, Bukan Taktik
November 10, 2008, 12:15 pm
Filed under: Politik

Ketua Parlemen Republik Islam Iran, Ali Larijani, di hadapan para wartawan, hari Ahad, menyatakan bahwa masyarakat internasional mengharapkan Obama dapat mengubah kekeliruan-kekeliruan AS. Larijani menyebut hasil pemilu AS dengan kemenangan Barack Obama sebagai suara untuk slogan perubahan politik di AS. Dikatakannya, “Jika Obama mereaksi positif suara para pemilihnya, ia harus memperhatikan secara detail kondisi kawasan dan kekeliruan-kekeliruan Washington.”

 

Menurut para pengamat politik, menelaah kembali faktor dan sumber problema AS bukan lah sebuah pilihan, tapi sebuah keharusan bagi Obama. Problema AS dari sisi kebijakan luar negeri dapat dilihat dari kegagalan strategi Timur Tengah Besar versi Presiden George Bush yang kini dihadapkan pada jalan buntu di Irak dan Afghanistan. Pada saat yang sama, perkembangan Timur Tengah mencerminkan politik standar ganda AS di kancah internasional. Fenomena itu sudah menjadi rahasia umum bagi masyarakat dunia.

 

Mengingat kebijakan buruk AS di Timur Tengah, slogan perubahan yang digemborkan Obama dalam kampanyenya  sangatlah tepat bagi masyarakat AS. Hal itulah yang membuat warga negara ini melirik Obama ketimbang rivalnya, John McCain. Warga AS menghendaki perubahan mendasar kebijakan dalam dan luar negeri Washington. Suara yang diberikan kepada Obama dapat diartikan sebagai refleksi tuntutan rakyat AS.

 

Terlepas dari itu semua, siapapun yang menjadi presiden AS, baik dari Partai Demokrat maupun Partai Republik, menyadari bahwa jalan yang ditempuh pemerintahan saat ini akan menghantarkan AS ke arah kegagalan. Pada dasarnya, jalan buntu tersebut dapat dikatakan sebagai kegagalan unilateralisme AS di kancah internasional. Berdasarkan pengalaman tersebut, Obama diharapkan akan mengendalikan pemerintahan AS dengan mengambil kebijakan-kebijakan baru.

 

Sementara itu, para pengamat politik berpendapat, pengalaman sebelumnya membuktikan bahwa kebijakan luar negeri Partai Demokrat dan Partai Republik tidak mempunyai perbedaan mendasar. Perubahan mungkin dapat dirasakan pada kebijakan dalam negeri, sedangkan kebijakan luar negeri dua partai besar AS dapat diumpamakan dengan setali tiga uang.

 

Mengingat problema dan krisis AS yang mendunia, kebijakan luar negeri AS diharapkan dapat berubah sesuai dengan tuntutan realita. Dengan demikian, perubahan kebijakan luar negeri dapat dikatakan sebagai tuntutan yang sudah diprediksikan. Sebab, Gedung Putih tidak mempunyai jalan lain kecuali mengubah kebijakan luar negerinya.

 

Meski analisa ini tidak terbatas pada Obama saja , tapi apakah presiden Afro-Amerika ini dapat menggunakan peluang itu dengan baik? Pada dasarnya, pernyataan Ketua Parlemen Iran, Ali Larijani, terkait kebijakan luar negeri AS mengisyaratkan kendala-kendala  AS yang  merupakan ulah para pejabat AS sendiri. Jika kebijakan-kebijakan luar negeri AS ditelaah kembali secara detail, akan disimpulkan bahwa perubahan strategi harus menjadi acuan kebijakan negara ini. Dengan demikian, perubahan kebijakan AS tidak sebatas taktik atauk kosmetik semata. Bisakah Obama melakukannya?!!!  



Persiapan Irak Jelang Pemilihan Dewan-Dewan Provinsi
November 10, 2008, 12:12 pm
Filed under: Politik

Komisi Tinggi Pemilu Irak menentukan waktu pelaksanaan pemilihan dewan-dewan provinsi Irak pada tanggal 31 Januari 2009. Selain tiga provinsi di Kurdistan dan Provinsi Tamim yang berpusat di Kirkuk, pemilihan dewan-dewan provinsi akan digelar secara serentak di 14 provinsi Irak. Qasem Al-Aboudi, seorang pejabat Komisi Tinggi Pemilu Irak mengatakan, “Kampanye pemilu akan digelar dari akhir bulan ini atau awal bulan depan hingga dua bulan kemudian.”

 

Pendaftaran kandidat pemilihan dewan-dewan provinsi di Irak sudah dimulai sejak satu bulan lalu. Berdasarkan data yang diumumkan Komisi Tinggi Pemilihan Irak, 401 organisasi, hingga kini, mendaftarkan nama mereka untuk ikut serta dalam pemilihan dewan-dewan provinsi di negara ini. 36 organisasi politik terdaftar sebagai kelompok-kelompok aliansi, sedangkan 365 lainnya tercantum sebagai kelompok-kelompok independen.

 

Dalam beberapa pekan terakhir ini, para marja dan pemimpin kelompok-kelompok politik Irak secara kompak mengajak masyarakat setempat untuk berpartisipasi dalam pemilihan dewan-dewan provinsi dan menekankan pentingnya pelaksanaan pemilihan tersebut.

 

Di tengah persiapan pemilihan dewan-dewan provinsi di Irak, sejumlah kelompok Kristen memprotes masalah penghapusan butir ke-50 undang-undang pemilihan yang isinya menjelaskan jatah minoritas. Ayatollah Sistani, marja Syiah di Irak, mengingatkan para pejabat Irak supaya menjaga hak-hak kelompok minoritas dalam undang-undang pemilu di Irak.

 

Terkait hal ini, Perdana Menteri Irak, Nouri Maliki, menjanjikan pelaksanaan pemilihan dewan-dewan provinsi di Irak secara damai dan aman dengan memperhatikan hak seluruh kelompok politik,agama dan suku.

 

Saat ini, upaya para pejabat dan para pemimpin politik terfokus pada persiapan pemilihan yang melibatkan seluruh kelompok di negeri ini. Sejumlah kelompok Ahlu Sunnah pada pemilihan sebelumnya telah melakukan aksi boikot. Namun pada pemilihan kali ini, sederet indikasi menunjukkan bahwa mereka akan ikut meramaikan pemilihan dewan-dewan provinsi Irak.

 

Kesiapan kelompok-kelompok politik untuk berpartisipasi dalam pemilihan dewan-dewan provinsi Irak mencerminkan kesadaran rakyat negeri atas pentingnya peningkatan proses pembangunan politik bagi seluruh warga Irak. Kondisi politik Irak yang membaik diharapkan dapat menumumbuhkan solidaritas bangsa ini yang lebih tangguh, sehingga pasukan pendudukan tidak mempunyai alasan untuk bercokol di negeri kaya minyak ini. Sudah menjadi rahasia umum bahwa pasukan pendudukan di Irak adalah penyebab utama instabilitas di negeri Kisah 1001 Malam.