Kembalilah ke Tanah Air!


Perspektif Juru Selamat dalam Sinema Barat
Agustus 30, 2008, 1:17 pm
Filed under: Budaya

Ide kota utopia telah menjadi pembahasan tersendiri sejak dahulu kala di kalangan para pemikir dan cendekiawan. Utopia Plato, Kota Matahari yang digagas oleh Farabi dan Surga Dunia yang diangkat oleh Thomas More adalah di antara kota utopia. Agama-agama ilahi selalu berkeyakinan bahwa juru selamat dunia akan tiba untuk menyelamatkan dunia dari kesengsaraan dan kebatilan. Menurut agama-agama yang ada, target pemerintahan juru selamat dunia adalah realisasi keadilan, keamanan, keselamatan, kesejahteraan serta sains dan teknologi yang dipersembahkan untuk seluruh warga dunia. Akan tetapi, kapan juru selamat muncul di muka dunia ini untuk merealisasikan utopia itu?

 

Tibanya juru selamat juga disebut dengan istilah apokaliptik. Kata apokaliptik (apocalyptics), berasal dari kata Yunani, apokaluptein, yang berarti wahyu, penyingkapan, atau yang disingkapkan melalui pewahyuan. Apa yang disingkapkan itu ialah tanda-tanda datangnya akhir zaman berupa kejadian-kejadian dahsyat dan kerusakan besar disebabkan ulah Sang Perusak yang disebut Antichrist (ummat Islam menyebutnya Dajjal).

 

Akan tetapi setiap agama dan kelompok menggunakan istilah tersendiri untuk akhir zaman. Sebagian besar teks kuno menyebutkan bahwa akan terjadi perang yang berbahaya antara pendukung juru selamat dan pasukan musuh, yang kemudian dimenangkan oleh kubu juru selamat. Setelah itu, masyarakat dunia akan menyaksikan kota utopia. Fenomena dramatis atau pertarungan antara kubu kebenaran dan kebatilan yang akhirnya dimenangkan oleh kebenaran, telah menjadi pijakan sejumlah besar skenario film. Bahkan banyak film anak-anak yang menggunakan alur cerita dramatis ini.

 

Di dunia perfilman Barat, khususnya Hollywood, produksi film dengan skenario pertarungan kubu kebenaran dan kebatilan yang akhirnya dimenangkan kebenaran, dimasukkan dalam agenda khusus para pembuat film. Tujuan pertama mereka adalah memanfaatkan naluri manusia tentang masa depan dan mengeruk kekayaan yang lebih banyak bagi para pembuat film. Akan tetapi tujuan lebih penting lainnya dalam pembuatan film seperti ini adalah mendefinisikan pengertian juru selamat dan tanda-tanda akhir zaman menurut pandangan para pembuat film atau pemikiran Zionisme. Sebagai contoh, film Birth of a Nation yang dibuat pada tahun 1915 merupakan film pertama yang bertujuan memberikan gambaran soal juru selamat dan tanda-tanda akhir zaman dalam perspektif mereka. Rasialisme DW Griffith, sutradara film Birth of a Nation, dan rasa dendamnya terhadap non Yahudi telah mempengaruhi alur cerita film ini.

 

Setelah Zionis Israel menduduki Palestina, sejumlah insan sinema Hollywood memproduksi film-film dengan tujuan melegalkan deklarasi Zionis Israel. Pembuatan film Ben Hur dan The Ten Commandments yang mengungkap sejarah agama Yahudi merupakan salah satu langkah yang didukung penuh oleh Rezim Zionis Israel di bidang pembuatan film. Terkait hal ini, Eric Rhodeh, seorang kritikus film dan penulis sejarah sinema, mengatakan, “Film-film ini tidak berkomitmen dengan isi kitab suci.”

 

 

Bila ingin membahas juru selamat dan masa depan dunia versi Zionis Israel, kita dapat melihat film-film saat ini yang dibuat oleh Hollywood. Pemikiran-pemikiran seperti ini secara transparan dijelaskan dan berkembang secara luas. Dalam beberapa dekade terakhir, masalah masa depan disampaikan oleh sejumlah pemikir seperti Tafler, Fukuyama, Huntington dan lain-lain. Masalah yang sama juga menjadi topik yang hangat di dunia sinema. Di Barat, meski masalah masa depan dikaji secara ilmiah, politik dan agama, tapi di dunia perfilman pada umumnya dikemas dengan simbul agama. Meskipun demikian, muatan film mempunyai unsur politik.

 

Sebagai contoh yang sangat jelas, Independence Day adalah film ufo yang menyeberangi kota New York,Washington D.C dan Los Angeles juga menghancurkan tempat terkenal seperti Gedung Putih,gedung Empire State dan gedung u.s bank. Film ini dirilis pada tahun 1996. Ufo itu akhirnya dapat ditundukkan dan meninggalkan bumi. Pembuatan film fiktif yang dipenuhi dengn simbul-simbul Zionis itu selain mencerminkan apa yang terlintas di benak para pejabat AS dan Zionis Israel, juga menjelaskan bahwa akhir zaman kian dekat.

 

Selain itu, tiga film lainnya yang berjudul Matrix dirilis dari tahun1999 hingga 2003, yang semuanya mengungkap alur cerita soal masa depan dan juru selamat. Film itu memuat cerita pada tahun 2200 yang menjelaskan bahwa otak manusia di bawah kendali mesin-mesin kehidupan. Di dalam fim Matrik, terdapat tokoh hero yang bernama Neo. Neo yang berarti baru adalah tokoh yang dipilih untuk berperang dengan mesin-mesin tersebut dan menyelamatkan manusia. Di film tersebut diceritakan bahwa jalan keselamatan adalah menuju kota yang bernama Zion, sebuah bukit di Baitul Maqdis. Menurut film tersebut, Neo adalah seorang juru selamat yang akan tiba di masa depan untuk mengendalikan masyarakat dunia dari gunung Zion. Film itu berupaya mengajak para penonton film itu supaya merindukan bukit Zion yang dijanjikan untuk masa depan.

 

Film-film yang ada selain menyimpangkan pemikiran Yahudi yang berlandaskan pada doktrin Rezim Zionis Israel, juga menyerang pemikiran-pemikiran Islam. Dengan memutarabalikkan ajaran Islam, karya-karya itu berupaya mempengaruhi para penonton di seluruh dunia supaya melihat Islam dengan sudut pandang negatif.

 

Film The Man Who Saw Tomorrow, karya Orson Welles, pada tahun 1981 adalah di antara film lainnya mengenai masa depan. Film itu dibuat berlandaskan pada ramalan Nostradamus yang hidup pada abad 16 dan menguasai sejumlah ilmu. Ia menulis buku berjudul Nostradamus Prophecy. Setelah beberapa abad kemudian, perusahaan film Metro-Goldwyn Mayer menggarap film berdasarkan pada buku karya Nostradamus. Dalam film itu, Imam Mahdi af yang diyakini ummat Islam sebagai juru selamat, dilecehkan secara blak-blakan.

 

Terkait hal ini, Doktor Hasan Bulkhari, seorang penulis dan dosen, menulis, “Hingga kini, industri-industri film di Hollywood serius menggarap karya-karya yang berkaitan dengan juru selamat. Dari satu sisi, mereka merusak keyakinan atas juru selamat menurut Islam atau Imam Mahdi af, tapi dari satu sisi lain, memaparkan konsepsi juru selamat menurut pandangan mereka. Pandangan saya ini bukan bermuara dari fanatisme agama dan politik, tapi itu semua berangkat dari telaah atas karya-karya Hollywood.”

 

Lebih lanjut Bulkhari mengatakan, “Saat ini, manusia dihadapkan pada kondisi krisis. Ketika manusia berada dalam kondisi krisis, perhatiannya akan tertuju ke langit. Masalah masa depan dan risalah pengenalan Imam Mahdi as kepada seluruh warga dunia merupakan salah satu tugas utama ummat Islam. Hal ini harus dilakukan melalui media-media. Saya yakin bahwa hal itu dapat diterima di dunia ini. Dengan cara ini, kami dapat menghadapi gelombang besar media Barat.”

 

Salah satu indikasi kebutuhan manusia atas juru selamat dapat dilihat dari film-film hero yang disambut baik oleh khalayak. Spiderman, Superman dan Batman digambarkan sebagai pahlawan yang dibutuhkan dalam kondisi-kondisi tertentu. Alur cerita inilah yang membuat jutaan manusia di seluruh dunia menyambut film-film tersebut. Film hero yang akhir-akhir ini dirilis berjudul The Dark Knight dengan memerankan tokoh fiktif Batman. Penjualan film The Dark Knight yang laku keras dapat diindikasikan sebagai meningkatnya perhatian manusia atas masa depan.

 

Tak diragukan lagi, Imam Mahdi af adalah tokoh sesungguhnya yang akan muncul di muka bumi untuk menyelamatkan dunia dari belenggu kebatilan. Media-media di dunia Islam sudah selayaknya mengemban tugas penting ini untuk mengenalkan juru selamat yang sebenarnya, Imam Mahdi af. (Alireza Alatas)

 

(Sumber: IRIB)

 

 

 

 


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: