Kembalilah ke Tanah Air!


Dampak dan Peran Ekonomi di Olimpiade
September 4, 2008, 1:17 pm
Filed under: Budaya

 

Olimpiade adalah sebuah ajang olahraga yang diadakan setiap empat tahun sekali dan diikuti oleh seluruh negara di dunia yang terdaftar di Komite Olimpiade Internasional (IOC). Tahun ini Olimpiade kembali diselenggarakan di Negeri Tirai Bambu, tepatnya di Beijing mulai 8 Agustus sampai dengan 24 Agustus 2008. Olimpiade pada awalanya adalah momentum yang murni olahraga. Akan tetapi, bila diperhatikan dengan detail, momentum penting itu mempunyai aspek-aspek lainnya seperti politik dan ekonomi. Bagi para politisi, Olimpiade merupakan momentum emas yang tidak boleh dilewatkan. Hal yang sama juga dirasakan oleh para pengusaha untuk mengambil keuntungan yang luar biasa.

 

Sejumlah pakar mengumpamakan olahraga dari sisi pengaruh ekonomi dan politik seperti perang. Dalam peperangan, meski logistik militer dan para tentara bersiaga di font perang, namun nasib perang itu ditentukan oleh kebijakan politik dan dukungan ekonomi. Di pesta olahraga seperti Olimpiade, meski para atlet berlomba dan bertarung memperebutkan medali, tapi aktivitas politik, ekonomi dan budaya adalah peran-peran yang tak bisa di pungkiri dalam mekanisme penyelenggaraan pesta olahraga dan kesuksesan para atlet.

 

Beberapa waktu lalu, The Economist, terbitan London menulus, “Olahraga adalah sarana untuk menghibur milyaran manusia. Akan tetapi penyelenggaraan pesta olahraga dapat dikatakan sebagai sebuah perdagangan dunia.” Kepentingan ekonomi adalah sebuah realitas yang selalu diperhitungkan oleh negara penyelenggara pesta tersebut.

 

Negara-negara penyelenggara Olimpiade seringkali mengeluarkan dana yang tidak sedikit untuk mempersiapkan pesta olahraga tersebut. Akan tetapi mereka mempunyai target–target lain seperti keuntungan dari sisi ekonomi. Komite Olimpiade Internasional (OIC) selalu menginginkan negara penyelenggara supaya mempersiapkan pesta olahraga yang terbaik. Untuk itu, negara-negara penyelenggara Olimpiade selalu memikul dana yang cukup besar untuk mempersiapkan pesta olahraga dunia yang terbaik.

 

Pada tahun 2000, Australia sebagai tuan rumah Olimpiade, mengeluarkan dana milyaran dolar Amerika untuk membangun stadion olahraga, hotel dan infrastruktur yang berkaitan dengan pesta olahraga tersebut. Pada tahun 2004, Yunani juga mengeluarkan dana lebih dari sepuluh miliyar dolar Amerika.

 

Pada tahun ini, Cina mengeluarkan dana yang paling spektakuler dibanding dengan negara-negara lainnya. Negeri Tirai Bambu ini merogoh dana lebih dari 40 milyar dolar Amerika. Dua tahun lalu, dana penyelenggaraan pesta olahraga dunia Olimpiade di Beijing diperkirakan 16 milyar dolar Amerika. Namun meroketnya inflasi, terpuruknya ekonomi dunia, naiknya harga minyak, tekanan negara-negara Barat dan penambahan dana untuk mengatasi lingkungan hidup, pembangunan hotel-hotel dan insfrastuktur lainnya adalah di antara faktor yang menyebabkan pembengkakan dana pada penyelengaraan Olimpiade di Beijing. Selain itu, pembangunan infrastuktur tersebut mampu mengundang investor luar negeri untuk menanam modalnya di negeri ini. Berdasarkan statemen Pusat Data Cina, negara ini setelah dibanjiri para investor untuk penyelenggaraan Olimpiade, mengalami setengah persen perkembangan produksi bruto nasional pada setiap tahunnya di banding pada tahun-tahun sebelumnya

 

Meski demikian, sejumlah pakar ekonomi meyakini bahwa laju ekonomi yang disebabkan oleh penyelenggaraan Olimpiade itu akan berhenti setelah berakhirnya pesta olahraga dunia tersebut. Di samping itu, pengalaman tuan-tuan rumah Olimpiade membuktikan bahwa mereka juga harus mengeluarkan dana yang besar untuk memperbaiki dan menjaga insfrasruktur yang dibangun untuk pesta olah raga tersebut. Setelah penyelenggaraan Olimpiade pada tahun 2004, Yunani didera inflasi akibat penyelenggaraan Olimpiade. Rakyat Yunani pun harus menanggung kerugian tersebut.

 

Selain itu, peran pendukung dana Olimpiade merupakan hal yang tak bisa dipungkiri. Meski Olimpiade sudah berlangsung sekitar seabad, para donatur mempunyai hubungan erat dengan pesta olahraga. Sebagai contoh, sebuah perusaahan alat-alat olahraga, Adidas, adalah pendukung dana Olimpiade sejak tahun 1927. Dari pesta olahraga dunia tersebut, Adidas mengeruk keuntungan yang luar biasa.

 

Di Olimpiade Beijing, sepuluh perusahaan bekerjasama dengan pemerintah Cina. Dari sepuluh perusahaan itu, tujuh perusahaan berasal dari Cina, sedangkan tiga lainnya berasal dari luar negara ini. Dengan memanfaatkan momentum penting tersebut, perusahaan-perusahaan tersebut berupaya mengeruk keuntungan  sangat besar. Bahkan sejumlah perusahaan pakaian dan makanan berusaha menggunakan momentum besar itu untuk memasarkan produk-produk mereka. Lembaga Riset Ekonomi Cina menyebutkan income bersih dari penyelenggaraan Olimpiade itu mencapai dua milyar dolar Amerika. Diprediksikan, income Beijing dari Olimpiade akan mencapai lima milyar dolar Amerika. Pada tahun 2004, Yunani melalui penyelenggaraan pesta olahraga dunia Olimpiade, mengambil keuntungan empat milyar dolar Amerika. Adapun Inggris dari penyelenggaraan pesta olahraga Olimpiade yang akan digelar pada tahun 2012, diperkirakan mengeruk keuntungan sekitar tujuh milyar dolar Amerika. Tentunya, jumlah tersebut akan dibagi ke negara-negara dan perusahaan pendukung Olimpiade.

 

Pesta olahraga dunia Olimpiade sudah semestinya bergerak untuk menciptakan perdamaian dan persahabatan antarbangsa. Namum pada faktanya, pesta olahrga ini berubah menjadi front persaingan antarnegara. Pemerintah yang bersangkutan mengeluarkan dana yang tak sedikit untuk memenangkan pertandingan-pertandingan yang digelar di Olimpiade. Lebih dari itu, dana yang sangat besar dianggarkan untuk penyelenggaraan pesta olahraga tersebut. Sementara itu, sejumlah negara, khususnya negara Afrika, dilanda kemiskinan, kelaparan dan krisis obat-obatan. Berdasarkan data yang ada, lebih dari dua juta anak di bawah lima tahun setiap tahunnya meninggal dunia, karena penyakit-penyakit yang mudah disembuhkan. Disebutkan pula, 40 juta anak dan remaja di dunia ini tidak dapat meneruskan belajar di sekolah-sekolah. Data yang ada juga menyebutkan, 300 juta warga Afrika tidak dapat menikmati air bersih dan sehat. Di tengah kondisi seperti ini, sebuah pertanyaan terbersit di benak kita; Apakah dana besar yang dianggarkan untuk penyelenggaraan pesta olahraga dunia, tidak dapat dikurangi? Apakah dana itu juga  dapat disisakan untuk warga dunia yang miskin dan tertindas?

 

Tak diragukan lagi, terdapat berbagai jalan untuk membantu manusia-manusia yang lemah dan tertindas. Olimpiade yang menggunakan slogan kemanusiaan, diharapkan dapat mengurangi pesta formalitas yang menelan dana yang luar biasa dan membantu warga dunia yang tertindas. Dari sisi lain, olahraga yang merupakan penjamin kesehatan manusia, juga harus terus dikembangkan. Olahraga tidak sepantasnya hanya diakses oleh kelompok elit, tapi harus dikelola sedemikian rupa sehingga semua kalangan masyarakat dapat menikmati olahraga. Untuk itu, Olimpiade diharapkan dapat mensosialisasikan olahraga di seluruh kalangan masyarakat. Meski olahraga selalu dibarengi dengan aspek ekonomi. Namun para pemilik perusahaan besar tidak seharusnya diberikan peluang untuk menjadikan olahraga dan para atlet sebagai sarana ketamakan mereka. (Alireza Alatas)

 

(Sumber: IRIB)

 

 

 

 


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: