Kembalilah ke Tanah Air!


Dick Cheney Ancam Rusia, Moskow Tak Mau Minta Maaf
September 7, 2008, 1:03 pm
Filed under: Politik

Wakil Presiden AS, Dick Cheney, mengkritik Rusia dan mengimbau negara-negara anggota Pakta Partahanan Atlantik Utara (NATO) untuk bekerjasama dalam menghadapi sesuatu yang diistilahkannya sebagai ancaman bagi kemajuan demokrasi. Kantor Berita AFP melaporkan, Cheney di Italia menyebut Rusia sebagai rezim otoriter yang berupaya menghidupkan kembali kekuatan era Uni Soviet.

Cheney mengatakan, “Ketika sebuah negara dibiarkan melanggar zona negara lainnya secara sepihak, maka agresi semacam itu akan terulang kembali.” Seraya menyinggung bahwa Rusia tidak komitmen dengan perjanjiannya soal kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi oleh Perancis, Cheney mengatakan, “Pejabat-pejabat Rusia menabuh genderang perlawanan terhadap Barat.” Dikatakannya, Meski menyadari tanggung jawabnya, namun hingga kini, Rusia tidak berkomitmen atas hal itu. Dengan mengakui kemerdekaan Ossetia Selatan dan Abkhazia, Rusia telah menunjukkan sikap menentang.

Dick Cheney melawat Italia setelah berkunjung ke Azerbaijan, Georgia dan Ukraina. Kunjungan Cheney ke kawasan bertujuan melakukan lobi politik guna mendorong kemajuan perundingan soal keanggotaan Georgia dan Ukraina di NATO yang ditentang oleh Rusia. Upaya melepas ketergantungan Barat atas energi Rusia merupakan salah satu tujuan kunjungan Cheney ke kawasan.

Sementara itu, Perdana Menteri Rusia, Vladimir Putin, menyatakan bahwa Rusia tidak akan memohon maaf kepada negara dan lembaga manapun atas krisis di Georgia. Sebagaimana dilaporkan Kantor Berita Xinhua, Putin, hari Sabtu ketika diwawancarai Televisi Rossiya mengatakan, “Krisis Kaukasus tidak seharusnya mempengaruhi hubungan Barat dan Rusia.”

Lebih lanjut Rusia menuturkan, “Rusia mempunyai sumber alam yang negara-negara Barat tidak dapat berkutik tanpanya. Pengadaan sumber alam ini sangat sulit, bahkan tidak mungkin dilakukan melalui jalur lain.”

Pada tanggal 9 Agustus, pasukan Georgia menyerang kawasan Ossetia Selatan, yang kemudian mendapat serangan balik dari Rusia. Setelah itu, Rusia dan Georgia menandatangani perjanjian perdamaian dengan mediasi Perancis. (Alireza Alatas)

(Sumber:IRIB)


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: