Kembalilah ke Tanah Air!


Kerjasama Nuklir Rusia-Venezuela, Ancaman Bagi AS
September 29, 2008, 10:32 am
Filed under: Politik

Presiden Venezuela, Hugo Chavez, mengabarkan pembentukan komisi untuk mengkaji kerjasama antara Karakas dan Moskow di bidang nuklir sipil. Perdana Menteri Rusia, Vladimir Putin, mengusulkan pembentukan komisi ini, kepada Chavez saat melakukan kunjungan dua hari ke Moskow.

Chavez dalam sidang Partai Sosialis di Karakas mengatakan, “Saat ini, Brasil dan Argentina mempunyai instalasi nuklir. Kami pun berupaya memulai aktivitas nuklir di negeri ini.” Pada bulan Mei, 2005, Chavez menyatakan bahwa Venezuela memulai aktivitas nuklirnya. Instalasi nuklir Venezuela dalam skala laboratorium sudah dimulai pada dekade 60 tahunan. Namun karena tekanan AS, aktivitas laboratorium itu dihentikan. Sejak tahun 2005, Venezuela mencari para investor untuk membangun instalasi nuklir di negeri ini. Di bidang ini, Venezuela dan Argentina telah menandatangani nota kesepkatakan. Akan tetapi kesepakatan itu tidak bertahan lama karena tekanan Setan Besar atau AS atas Argentina.

Melihat fenomena seperti ini, tawaran Putin untuk menjalin kerjasama di bidang nuklir dapat dikatakan sebagai peluang emas bagi Chavez. Tentu saja, pemerintah Karakas tidak akan menyia-nyiakan peluang tersebut. Pengalaman juga membuktikan bahwa Moksow tidak mempedulikan tekanan-tekanan Washington. Independensi Rusia merupakan jaminan tersendiri bagi Venezuela, sehingga pengalaman buruk dengan Argentina lantaran tekanan AS, tidak akan terulang kembali.

Menurut para pengamat politik, pembentukan komisi kolektif di bidang nuklir akan menciptakan tantangan baru bagi hubungan Washington dan Karakas. Di samping itu, kerjasama antara Rusia dan Venezuela di bidang nuklir dapat dinilai sebagai ancaman tersendiri bagi Washington, mengingat adanya friksi tajam antara Rusia dan AS. Melalui kerjasama bilateral ini, Venezuela kian tangguh. Ketangguhan negeri ini, tentunya, dapat memperkokoh pengaruh Karaksas di kawasan. Inilah yang dikhawatirkan oleh AS.

Menghadapi ancaman seperti ini, Washington sangat mungkin mengangkat isu bahwa kerjasama nuklir antara Venezuela dan Rusia dilakukan untuk kepentingan selain sipil. AS dalam statemen resmi dan tidak resminya menyatakan bahwa Venezuela untuk saat ini, tidak membutuhkan teknologi nuklir, karena negara ini mempunyai cadangan minyak yang cukup besar. Namun para pejabat Karakas meyakini bahwa negara mereka akan membutuhkan energi nuklir saat bahan bakar fosil di dunia ini mengalami krisis. Pada dasarnya, AS tidak menghendaki negara-negara yang dinilainya sebagai pembangkang, untuk mencapai dan mengembangkan teknologi nuklir.

Pada saat yang sama, Rezim Zionis Israel dengan dukungan AS memproduksi lebih dari 400 hulu ledak nuklir. Ini membuktikan politik standar ganda AS di bidang nuklir. Zionis Israel yang terbukti menyalahi aturan internasional, malah didukung AS. Pada dasarnya, Washington menghendaki monopoli teknologi nuklir di tangan segelintir negara, sehingga pasar energi nuklir dapat dikendalikan negara-negara tersebut. Kerjasama Rusia dan Venezuela di bidang nuklir, tentunya, sangat mengganggu kepentingan AS di tingkat regional dan global. Apalagi politik luar negeri kedua negara itu, kini, berseberangan dengan kebijakan AS. (Alireza Alatas)

(Sumber: IRIB)


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: