Kembalilah ke Tanah Air!


Kunjungan Negroponte ke Irak, Tekanan Baru AS
Oktober 4, 2008, 1:01 pm
Filed under: Politik

Deputi Menteri Luar Negeri AS, John Negroponte, melakukan kunjungan dadakan ke Baghdad. Berunding dengan para pejabat tinggi Irak adalah tujuan utama kunjungan Negroponte ke negara ini. Sudah dapat diperkirakan bahwa kunjungan Negroponte ke Baghdad dilakukan untuk mengintervensi urusan internal Irak. Sebab, para pejabat Irak tengah memperdebatkan masalah perjanjian keamanan Baghdad-Washington. Penentuan waktu penarikan mundur pasukan AS dari Irak, kekebalan hukum bagi para tentara dan pekerja AS yang bertugas di negeri ini dan pembangunan pangkalan permanen bagi pasukan AS di Irak, merupakan sederet masalah yang diperdebatkan antara para pejabat Baghdad dan Washington.

Para pejabat Irak menyebut kedaulatan nasional dan independensi negera mereka sebagai dua poin penting yang harus tercantum dalam seluruh perjanjian dengan AS. Menurut perspekstif Baghdad, kekebalan hukum bagi tentara dan pekerja AS yang terikat kontrak di Irak merupakan garis merah bagi pemerintah Irak. Kekebalan hukum sama sekali tidak tercantum dalam logika pemerintah Baghdad. Siapapun, termasuk tentara dan pekerja AS, yang melakukan tindakan kriminal, harus dipertanggungjawabkan di depan meja pengadilan negeri ini.

Sementara itu, para pejabat AS berambisi besar mengakhiri tarik-ulur mengenai perjanjian keamanan Baghdad- Washington sebelum berakhirnya tahun 2008. Mereka berharap perjanjian keamanan itu bisa diserahkan kepada presiden mendatang AS.

Melihat fenomena politik yang ada, tidak diragukan lagi bahwa kunjungan Negroponte yang pernah menjabat sebaga Duta Besar AS untuk Irak, dilakukan untuk menekan pemerintah Irak. Beberapa hari lalu, Presiden Irak, Jalal Talabani, menyatakan bahwa AS mengancam akan memblokade seluruh aset Irak bila Baghdad tidak bersedia menandatangani perjanjian keamanan dengan Washington. Aksi teror yang kembali menggoncang Irak juga dapat diindikasikan sebagai intimidasi Gedung Putih terhadap pemerintah pusat Irak. Intimidasi dan kekerasan adalah kebijakan yang sudah dirancang oleh Washington untuk menekan Baghdad, sehingga negeri ini harus menerima perjanjian yang diinginkan Gedung Putih.

Hari Ahad, tepatnya tanggal 28 September 2008, empat bom meledak di Baghdad dan menewaskan sedikitnya 28 orang di Karrada, Baghdad. Setelah itu, sebuah bom mobil hari Kamis, tepatnya tanggal 2 Oktober, meledak dekat sebuah masjid di distrik Zafaraniyah, Baghdad timur menewaskan tujuh orang dan mencederai 21 lainnya. Insiden ini terjadi di saat warga keluar dari masjid usai menunaikan shalat Idul Fitri. Insiden serupa juga terjadi di wilayah Jadida, Baghdad timur, menewaskan 12 orang dan mencederai 25 lainnya. Pada hari itu pula, sekelompok orang tak dikenal menembaki sebuah bus yang dipenuhi penumpang dekat kota Baquba, Provinsi Diyala. Akibatnya, enam warga dilaporkan tewas termasuk dua wanita dan dua bocah.

Meski Irak terus ditekan dengan berbagai aksi teror, rakyat negeri ini tetap menentang keras perjanjian keamanan Baghdad-Washington yang dinilai merugikan kepentingan bangsa ini. Para imam Shalat Jumat di Irak dalam pidato mereka juga mensyaratkan kesepakatan perjanjian keamanan jangka panjang Baghdad-Washington dengan pendapat marji setempat. Terkait hal ini, Ayatullah Al-Udzma Sayid Ali Sistani, marji terbesar Syiah Irak, meminta PM Irak, Nouri Maliki supaya tidak menandatangani perjanjian keamanan dengan AS selama merugikan hak bangsa dan kedaulatan negara ini. (Alireza Alatas)

(Sumber:IRIB)


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: