Kembalilah ke Tanah Air!


Mengenang 11 September 2001
Oktober 8, 2008, 8:00 am
Filed under: Budaya

Tujuh tahun lalu, tepatnya 10 September 2001, saya menjejakkan kaki untuk pertamakali di London. Saya hendak belajar ilmu komunikasi di kota pusat dunia dan kota paling multi-kutur di dunia itu. Saking campur aduknya ras penduduk London, anak saya yang ikut bersama saya (usia masuk SMP) berkomentar: “Kok di sini jarang ketemu orang bule asli ya, Bu? Banyak yang kulit hitam, wajah Arab, wajah Cina/Jepang, dan paling banyak, wajah India Pakistan.”

Sehari kemudian, 11 September yang bersejarah itu, saya melapor ke kantor British Council. Ketika kami sedang membahas administrasi beasiswa, layar TV sebesar dinding menampakkan gambar serangan 9/11. Mula-mula kami yang ada di kantor itu tak menyadari apa yang sesungguhnya terjadi. Gambarnya begitu dramatis, seperti film fiksi, namun suara TV tidak terdengar (kebijakan kantor untuk tidak menyalakan suara TV).

Namun gambar-gambar itu tak dapat diabaikan begitu saja. Para karyawan yang orang Inggris asli bolak-balik keluar masuk ruangan dan terlihat tidak konsentrasi lagi pada pekerjaan yang sedang dilakukannya. Wajah mereka kelihatan upset (kecewa/marah) . Saya lalu diminta pulang dan datang lain hari. Saya agak tersinggung. Apakah karena saya berjilbab? Tetapi beberapa penerima beasiswa dari negara lain di ruangan itu juga diminta pulang. Waktu itu pukul 4 sore di London.

Saya berjalan kaki dengan anak saya menelusuri jalanan kota London yang mendadak senyap. Kami menuju subway dan merasa sedikit ketakutan. Rasanya seperti setiap orang kulit putih akan menyerang kami. Betapa lega ketika kami sampai di penginapan. Teman-teman sudah bergerombol di depan TV, mengikuti peristiwa terheboh di awal abad 21 ini.

Besoknya, tanggal 12 September, saya dijadwal berbicara tentang “Bagaimana media internasional meliput konflik di Indonesia”, di Freedom Forum, atas undangan Jake Lynch dari Reporting the World. Yang hadir para wartawan asing di London dan wartawan Inggris, termasuk The Guardian, BBC, dll. Materi yang sudah saya siapkan menjadi anti-klimaks. Audience tak terlalu berminat mendengarkan analisis saya, dan diskusi berbelok ke serangan 9/11. Seorang wartawan dari salah satu negara Afrika tiba-tiba marah. Dia berkata dengan nada keras: ”Mengapa serangan ini begitu heboh diliput media. Berapa yang tewas? 3000? Anda tahu, berapa orang tewas di Afrika setiap harinya? Bukan hanya karena bencana kelaparan dan kekeringan, tetapi juga karena perang. Apakah media Anda meliputnya?”

Kami semua menjadi tidak enak, dan pertemuan dibubarkan.

Dampak serangan 9/11 itu secara personal saya rasakan. Peristiwa ini banyak dibahas di kelas dan saya mesti teguh berdebat dengan beberapa dosen yang tendensius dan menghakimi Islam. Saya pernah diludahi dan dimaki-maki oleh orang tak dikenal di jalanan kota Edinburgh, Skotlandia. Lebih jauh lagi, di New York pada tahun 2004, saya juga dimaki oleh seorang turis Italia di dalam lift. Itu semua hanya karena saya berjilbab, yang menunjukkan keislaman saya.

Sudah tujuh tahun peristiwa ini terjadi. Aneh juga, tak ada organisasi internasional maupun pemerintah AS sendiri yang dapat memutuskan siapa sesungguhnya sang dalang, bagaimana modusnya, dan apa motivasinya. Rakyat Amerika sendiri mulai meragukan keterangan pemerintah. Tingkat kepercayaan mereka turun. Sebuah penelitian menyatakan, hampir 60% rakyat tidak percaya Irak atau Osama Bin Laden pelaku serangan. Hanya sekitar 15% yang percaya, selebihnya tidak tahu atau tidak menjawab.

Sastrawan dan filsuf George Bernard Shaw pernah mengatakan, ”Islam is the best religion, but Moslems are the worst followers”. Islam adalah agama yang baik, namun umat Muslim adalah penganut terburuk. Contohnya banyak kita jumpai sehari-hari: Amrozi dkk mengebom tempat hiburan dan 200 orang tak bersalah tewas karenanya, Ryan membunuh dan memutilasi banyak orang, pedagang menipu ketika menimbang, sekelompok orang menyerang orang-orang yang tak sepaham dengan mereka, para pencuri bersholat lalu mencuri lagi, dan para pejabat tetap korup meski sudah naik haji berkali-kali.

Di Palestina kita melihat kekejaman Zionis Israel kepada bangsa Palestina dan Lebanon, yang kristen maupun islam. Di India, umat kristen atau islam diserang dan dibantai oleh umat hindu. Di Afghanistan, peninggalan sejarah berupa patung Budha raksasa dihancurkan. Banyak manusia modern putus asa dengan agama. Mereka mengatakan, ”Agama hanya memecah belah. Lebih baik tak ada agama.” Persis lirik lagu John Lenon ”Imagine”.

Padahal, agama menuntun hidup manusia. Tanpa agama, manusia akan berperilaku seperti binatang: okol (otot) mengalahkan akal, berhubungan seks dengan bebas, telanjang tidak risih, menipu atau memakan hak orang lain tak merasa bersalah, dll. Agama mengatur kehidupan umat manusia dan semesta alam. Bahwa ada oknum manusia yang menyalahgunakan aturan-aturan agama, tak boleh kita menyalahkan agamanya.

Seandainya tak ada agama, apa yang akan terjadi? Manusia tak akan dapat mengukur kebaikan dan keburukan, kebenaran dan kekeliruan. Tuhan Maha Kuasa untuk menjadikan manusia apapun juga, tetapi Dia juga Maha Tahu. Dia tahu bahwa menyamaratakan seluruh umat manusia hanya akan membawa manusia dalam kegelapan. Manusia tak bisa membedakan baik dan buruk, salah dan benar.

Tujuh tahun sudah serangan 9/11. Kita belum mendapat jawaban tentang siapa dalang dan apa motivasinya? Namun yang pasti, good and evil ada di antara kita semua, apapun agama, kebangsaan, warna kulit, etnisitas, tingkat pendidikan. Di Hari yang Fitri ini, semoga kita memilih atau terpilih sebagai manusia yang baik dan berguna bagi manusia lainnya. (Sirikit Syah, Akhir September 2008)


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: