Kembalilah ke Tanah Air!


Iran Aktualita 3 November
November 3, 2008, 11:48 am
Filed under: Politik

Pekan lalu, Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Iran atau Rahbar, Ayatollah Al-Udzma Sayid Ali Khamenei dalam pesannya kepada para peserta Konferensi Tahunan Organisasi Islam Eropa menyatakan, “Generasi baru revolusi dapat menutupi keterbelakangan masa ketergantungan negeri ini. Ini merupakan risalah historis. ” Konferensi Tahunan Organisasi Pelajar Islam Eropa digelar hari Sabtu di Islamic Center Imam Ali as di Wina.

 

Pekan lalu, Pemimpin Wilayah Kurdistan Irak, Masoud Barzani, dalam lawatannya ke Tehran bertemu dengan Presiden Republik Islam Iran, Mahmoud Ahmadinejad. Selain itu, Barzani melakukan pertemuan dengan Ketua Penentu Kebijakan Pemerintah Iran, Ayatollah Hashemi Rafsanjani dan Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran, Manouchehr Mottaki. Kunjungan itu dilakukan Barzani di saat perjanjian keamanan Baghdad-Washington menjadi isu hangat di negaranya.

 

Ahmadinejad dalam pertemuan dangan Barzani mengatakan, “Pengalaman menunjukkan bahwa para pejabat AS tidak berkomitmen dengan kesepakatan-kesepakatan. Jika kepentingan tidak berpihak pada pemerintah Washington, para pejabat AS tidak enggan menyingkirkan pihak manapun, termasuk sekutu dekat mereka.” Dikatakannya pula, AS tidak puas dengan kondisi Irak saat ini. Untuk itu, Washington menempuh kebijakan untuk menciptakan perpecahan di dalam negeri kaya minyak ini. Ditengah kondisi seperti ini, hanya solidaritas dan persatuan yang dapat menghadapi konspirasi AS. Ahmadinejad menyatakan bahwa bangsa dan pemerintah Iran mendukung rakyat dan pemerintah Irak. Dukungan Iran atas proses politik Irak dan upaya Iran untuk mewujudkan stabilitas di Irak  berhasil menciptakan atmosfer ideal untuk perluasan kerjasama kedua negara dan peningkatan hubungan perdagangan antarkedua negara. Tingkat neraca perdagangan Iran-Irak pada tahun ini, mencapai tiga milyar dolar AS.

 

Wilayah Kurdistan Irak dalam beberapa tahun terakhir juga menjalin hubungan luas dengan Iran. Bahkan wilayah tersebut menjadi kawasan strategi bagi aktivitas ekonomi Iran. Kunjungan intensif antara pejabat Kurdistan ke Iran telah menghasilkan sederet kesepakatan untuk menjalin kerjasama di bidang pembuatan jalan, industri, teknologi informasi, serta ekonomi dan energi. Sangatlah wajar, bila Barzani dalam pertemuannya dengan Ahmadinejad menyebut kerjasama Tehran dan Baghdad sebagai hubungan yang lebih dari kerjasama biasa. Iran mempunyai perbatasan yang panjang dengan Irak. Untuk itu, Tehran menghendaki stabilitas dan keamanan di Negeri Kisah 1001 Malam. Dapat dipastikan bahwa pertemuan intensif antara pajabat Iran dan Irak  membahas  perjanjian keamanan Baghdad-Washington dan kekhawatiran atas sejumlah poinnya. Menurut Republik Islam Iran, keamanan di Irak sulit terealisasi selama pendudukan terus berlangsung di negara ini.

 

Pekan lalu, Ketua Parlemen Republik Islam Iran, Ali Larijani, dalam kunjungan resminya ke Manama, ibukota Bahrain, bertemu dengan pejabat-pejabat tinggi negara ini. Larijani sepulang dari lawatannya mengatakan, “Kunjungan ke negara-negara kawasan membantu menciptakan stabilitas politik, keamanan dan ekonomi di kawasan. Larijani menyebut konstruktif perundingan dengan raja, pengeran, perdana menteri, dan ketua parlemen Bahrain. Dikatakannya pula, perundingan intensif antara Iran dan Bahrain terus berlangsung. Selain itu, kerjasama kedua negara, khususunya di bidang ekspor gas, investasi di industri minyak dan gas terus berkembang. Republik Islam Iran dan Bahrain relatif mempunyai pandangan sama soal perkembangan Timur Tengah dan Teluk Persia. Berdasarkan pandangan sama tersebut, para pejabat Iran dan Bahrain berniat mengoptimalkan potensi yang belum digarap kedua negara dan meningkatkan hubungan kedua negara.

 

Dalam kunjungan Larijani ke Bahrain, Tehran dan Manama berhasil menandatangani kesepakatan kerjasama parlemen antarkedua negara. Di antara kesepakatan yang ada adalah kerjasama kinerja parlemen antarkedua negara, pertemuan diplomatik antaranggota perlemen. Melalui kerjasama itu, kedua pihak membantu pemahaman yang lurus soal pandangan politik dan ekonomi kedua negara. Lebih dari itu,  kerjasama kedua negara dapat meningkatkan hubungan kedua negara. Kunjungan ke negara-negara Timur Tengah dinilai sebagai langkah yang penting. Sebab, negara-negara di kawasan senantiasa berada di bawah tekanan politik destruktif AS. Ahmadinejad yang tahun lalu diundang untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi Dewan Kerjasama Teluk Persia (GCC) di Doha, menyiapkan kerjasama yang lebih kokoh antarnegara-negara kawasan. Kunjungan Larijani ke Bahrain dapat dikatakan sebagai kelanjutan kebijakan tersebut.

 

Pekan lalu, Tehran menjadi tuan rumah pertemuan segi tiga yang merumuskan deklarasi sebuah organisasi seperti OPEC di  bidang ekspor gas. Menteri Perminyakan Republik Islam Iran, Gholam Hossein Nouzari, Menteri Perminyakan Qatar, Abdollah Al-Atiah, Ketua Gazprom Rusia, Alexi Miller adalah pihak-pihak yang terlibat dalam pertemuan segi tiga itu. Ketiga negara tersebut mempunyai 60 persen cadangan gas di dunia. Para pejabat tiga negara itu dalam pertemuan mereka membahas perluasan komplek gas, partisipasi di pasar dunia gas dan penciptaan kondisi yang lebih tepat untuk jaminan energi yang diperlukan negara-negara konsumen. Selain ketiga negara tersebut, Indonesia, Venezuela, Nigeria, Mesir dan Libya adalah negara negara pengekspor gas di dunia.

 

Kesepakatan Iran, Qatar dan Rusia untuk ekspor gas menjadi sorotan kalangan politisi dan media-media massa dunia. Televisi Euronews dalam laporannya soal pertemuan segi tiga tersebut di Tehran mengutip keterangan Alexi Miller, menyebutkan, Iran, Qatar dan Rusia yang mempunyai 3,5 cadangan gas dunia, menggelar perundingan untuk membentuk organisasi negara-negara pengekspor gas. Koran Rusia, Kommersant, menyebut kesepakatan pertemuan segi tiga tersebut sebagai langkah pertama untuk pembentukan sebuah organisasi pengekspor gas.

 

Dalam pertemuan yang digelar di Tehran dinyatakan bahwa keputusan final akan diputuskan pada pertemuan ketiga negara itu yang menurut rencana digelar tanggal 18 November di Moskow. Refleksi pertama dari pelaksanaan pertemuan segi tiga soal ekspor gas di Tehran menunjukkan bahwa sejumlah negara anggota Dewan Kerjasama Teluk Persia (GCC), Aljazair, Venezuela dan Nigeria menyetujui pembentukan organisasi pengekspor gas. Namun seperti yang diprediksikan sebelumnya, AS dan sejumlah negara Eropa menilai negatif rencana pembentukan organisasi pengekspor gas.


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: