Kembalilah ke Tanah Air!


AS Dalam Sepekan 5 November
November 5, 2008, 8:16 am
Filed under: Politik

Rabu pagi, tepatnya tanggal 5 November 2008, bersamaan dengan berakhirnya waktu pemilihan presiden AS, Barack Obama dinyatatakan menang telak dalam Pilpres AS ke-56. Bahkan, bukan hanya unggul, Obama juga menyapu bersih suara di kantong suara lawannya dari Partai Republik, John McCain. Senator 47 tahun itu “membirukan” Negeri Paman Sam setelah empat tahun sebelumnya Partai Republik dengan capres George W. Bush membuat “merah” AS.

 

Pekan lalu, Televisi CBS, NBC dan FOX secara bersamaan selama setengah jam menayangkan film kampanye Obama. Biaya penayangan kampanye di ketiga televisi itu dan sejumlah stasiun televisi kecil lainnya diperkirakan mencapai enam juta dolar. Dana besar itu disebut sebagai angka tertinggi dalam sejarah kampanye kandidat presiden di negeri Paman Sam. Para analis media berpendapat bahwa tim sukses Obama sengaja mengeluarkan dana sangat besar untuk menyudutkan kampanye televisi Senator John McCain, kandidat presiden AS asal Partai Republik. Dalam beberapa pekan terakhir ini, kedua kandidat mengiklankan kampanye mereka di ratusan radio dan televisi. Dilaporkan bahwa Obama memiliki dana kampanye ratusan juta dolar lebih banyak ketimbang McCain.

 

Pada bulan Oktober, Obama harus membayar 100 juta dolar AS untuk propagandanya yang disiarkan televisi setempat. Dana yang dikeluarkan Obama itu lebih besar dari keseluruhan dana kampanye yang diterima tim sukses McCain pada bulan yang sama. Barack Obama setiap harinya menayangkan 7.700 kali siaran melalaui berbagai kanal televisi dan radio. Dana besar-besaran yang dikeluarkan kedua kandidat calon presiden AS disebut –sebut sebagai biaya kampanye termahal di dunia. Hingga kini, Obama dan McCain berhasil mengumpulkan dana kampanye dari para pendukungnya yang hampir menyentuh angka satu miliar dolar. Dilaporkan pula, sepertiga biaya itu digunakan untuk membiayai kampanye kedua kandidat tersebut. Biaya kampanye pemilihan AS, tahun 2008, diperkirakan mencapai lima miliar dolar.

 

Selain itu, Mantan Presiden AS, Bill Clinton dan wakilnya, Al Gore, dalam berbagai kesempatan mendukung Obama. Sementara itu, John Mc-Cain, pekan lalu, berkunjung ke negara-negara bagian yang merupakan basis Partai Republik. Namun kali ini, kandidat presiden asal Partai Republik kurang mendapat sambutan masyarakat setempat menyusul krisis ekonomi negara ini dan kebijakan perangnya.

 

Pekan lalu, Biro Investigasi Federal Amerika (FBI) berhasil menggagalkan rencana teror Barack Obama, kandidat presiden AS dari kubu Demokrat. Berita tersebut dipublikasikan di saat suasana pemilu di negeri Paman Sam kian memanas . Para pejabat FBI mengatakan, dua remaja anggota Neo-Nazi berniat meneror Senator Obama. Dalam aksi anti kulit hitam di Nashville, negara bagian Tennessee, dua remaja itu secara simbolik membantai 80 murid kulit hitam

Publikasi berita tersebut sebelum pelaksanaan pemilihan presiden AS dinilai sebagai hal sangat penting. Apalagi pemilihan presiden kali ini merupakan pemilihan pertama bagi masyarakat AS untuk memilih antara calon presiden kulit hitam atau kulit putih. Dalam sejarah 235 tahun Amerika, minoritas kulit hitam belum pernah mendapat tempat di Gedung Putih.

Data statistik menyebut lebih dari 14 persen populasi penduduk AS berasal dari keturunan Afrika. Dengan jumlah populasi sebesar itu, mereka hingga kini belum mendapat saham di sektor politik-sosial yang selayaknya di negeri ini. Memang, sejumlah tokoh kulit hitam seperti Colin Powell dan Condoleezza Rice dalam beberapa tahun terakhir ini, berhasil menduduki pos-pos penting di pemerintah AS. Meski demikian, jutaan warga kulit hitam di negara ini masih harus berjuang keras untuk keluar dari diskriminasi rasialis yang cukup dominan di sana. Bahkan bisa dikatakan bahwa indeks ekonomi dan sosial dan kesehatan di AS menunjukkan adanya kesenjangan yang luar biasa antara kulit putih dan hitam.

Sekalipun pengalamannya di dunia politik dinilai kurang, namun dengan slogan reformasi, Obama mampu melewati segala rintangan di tubuh kubu Demokrat sendiri. Fenomena ini tentunya sangat mengkhawatirkan kelompok-kelompok rasialis AS seperti Neo-Nazi dan Ku Klux Klan (KKK).

Pekan lalu, Senator senior Ted Stevens dari kubu Republik dijerat tuduhan menerima suap. Ted Stevens setelah terbukti menerima suap dinyatakan bersalah secara resmi oleh Pengadilan Federal Washington D.C. Sebelumnya, Ted Stevens dituduh menerima hadiah 250 ribu dolar secara ilegal dari sebuah perusahaan kontraktor. Pengadilan sebelumnya juga menjatuhkan hukuman Bill Alen, Direktur Eksekutif Perusahaan Minyak Veco. Corp, karena terbukti menyuap Stevens. Bill Alen yang berusia 84 tahun ini, menjabat sebagai senator negara bagian Alaska sejak tahun 1968 hingga kini.

Para pengamat politik bependapat bahwa putusan pengadilan terhadap senator senior Partai Republik yang disampaikan sepekan sebelum pelaksanaan pemilihan presiden AS, dapat dikatakan sebagai pukulan telak terhadap partai ini. Meski demikian, Ted Stevens terus berupaya mempertahankan kursinya di Senat AS. Berdasarkan undang-undang negeri Paman Sam, seseorang tetap berpeluang menjadi anggota Kongres AS meski ia terlibat dalam kasus suap. Jurubicara Ted Stevens pakan lalu menyatakan bahwa Stevens akan tetap bersaing dalam pemilihan anggota Kongres. Kasus suap Ted Stevens membuktikan betapa banyak tokoh politik AS yang tersandung kasus korupsi, penyalahgunaan kekuasaan dan skandal moral.

Selain kedua tokoh Partai Republik tersebut yang masing-masing berasal dari negara bagian Alaska, Gubernur Alaska sendiri, Sarah Palin, yang sekaligus kandidat wakil presiden kubu Republik, juga terjerat tuduhan penyalagunaan kekuasaan. Sejumlah jajak pendapat yang digelar dalam beberapa bulan terakhir menunjukan tingkat kepercayaan masyarakat kepada Kongres menurun drastis, bahkan lebih rendah dibanding tingkat kepercayaan kepada Gedung Putih. Disebutkan, tidak lebih dari 20 persen warga yang puas akan kinerja legislatif negara ini.Fenomena ini menunjukkan skandal keuangan dan moral telah mengakar begitu kuat di dalam instnasi-instansi pemerintahan AS yang salah satunya adalah Kongres.

Pekan lalu, Presiden AS, George W. Bush, memperingatkan bank-bank negara ini supaya tidak menyimpan bantuan keuangan dari pemerintah. Peringatan Bush itu disampaikan menyusul naiknya indeks saham di Wall Street. Bush dalam pidatonya mengatakan, bank-bank yang menerima suntikan dana ratusan milyar dolar AS sudah selayaknya membayar hutang mereka sesuai dengan permintaan nasabah. Para pengamat politik berpendapat bahwa aspek-aspek krisis keuangan yang meluas diumpamakan seperti gunung es yang bongkahan besarnya masih terselubung di dalam air. Meski dana ratusan milyar telah dikucurkan, tetap ada kekhawatiran bahwa proses perputaran uang dan investasi di kalangan perbankan dan industri dihadapkan pada jalan buntu. Jika produksi terus berada dalam kondisi macet, situasi ekonomi akan mencapai pada titik keterpurukan dan tingkat pengangguran akan terus meningkat.

Kondisi semacam ini jauh hari sudah diprediksikan bahwa dana penyelamatan ekonomi 700 milyar dolar tidak dapat membantu kondisi yang ada tanpa pembenahan sistem menejemen dan proteksi atas kinerja para pakar perbankan Wall Street. Krisis terbesar dalam 80 tahun terakhir ini telah menimpa negeri ini. Sekelompok bankir kapitalis yang curang telah menyeret lembaga-lembaga finansial yang dikelola mereka ke arah keterpurukan.

Pekan lalu, Menteri Pertahanan AS, Robert Gates, di tengah perdebatan kampanye dan kekhawatiran atas krisis ekonomi AS yang kian parah, menghendaki pelaksanaan proses peremajaan gudang nuklir di negerinya. Dalam pidatonya, Gates mengatakan, “Kita harus kembali memulai uji coba nuklir dengan cara meremajakan gudang nuklir.” Seraya menyinggung upaya Rusia dan Cina untuk meremajakan gudang nuklir mereka, Gates berupapa menjustifikasi kebijakannya terkait hal ini. Para pengamat politik berpendapat bahwa pernyataan Gates ini menunjukkan perlombaan senjata antarkekuatan utama dunia telah dimulai.

Beberapa tahun setelah berakhirnya perang dingin, konsentrasi negara-negara adidaya tidak lagi tertuju pada pembuatan dan penumpukan senjata nuklir. Namun dalam beberapa tahun terakhir ini, proses pembuatan dan penumpukan senjata nuklir bukan berhenti, tapi malah kian marak. Bahkan sejumlah negara adidaya seperti AS menyatakan kesiapannya untuk memulai uji coba nuklir. Tak diragukan lagi, peremajaan gudang nuklir dapat menjadi kendala serius bagi proses perlucutan senjata. Pada tahun 2002, AS dan Rusia bersepakat mengurangi hulu ledak nuklir hingga 1700 dan 2200, yang dilakukan secara bertahap. Enam tahun telah berlalu dari kesepakatan tersebut, tapi AS kini mempunyai lima ribu hulu ledak. Tentunya langkah AS itu mengundang protes para pejabat Rusia.


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: