Kembalilah ke Tanah Air!


Obama; Antara Janji dan Realita
November 8, 2008, 12:38 pm
Filed under: Politik

Barack Obama, akhirnya, terpilih menjadi presiden ke-44 AS di tengah badai krisis finansial yang melanda negara adidaya itu. Dalam kondisi seperti ini, Obama menyatakan akan memprioritaskan penanganan krisis ekonomi dalam pemerintahannya. Dalam konferesi pers perdana setelah dipastikan menang dalam pemilihan presiden AS, Obama mengatakan, “Mengesampingkan masalah partai, politik dan bekerjasama dengan pihak lain adalah prasyarat utama untuk menyelesaikan problema dan krisis saat ini yang menimpa AS.” Presiden terpilih AS itu juga mengakui bahwa krisis saat ini tidak dapat diselesaikan dalam waktu singkat.

 

Pernyataan Obama itu disampaikan bersamaan dengan dipublikasikannya data baru pengangguran di negara ini. Berdasarkan data terbaru Departemen Tenaga Kerja AS, tingkat pengangguran di negara ini meningkat hingga sepuluh juta warga. Data itu menunjukkan angka tertinggi sejak tahun 1994. Sejumlah analisa menyebutkan bahwa tingkat pengangguran yang terus meningkat disebabkan hilangnya peluang kerja dalam beberapa bulan terakhir ini. Sebagian besar para pakar ekonomi memperingatkan bahwa AS akan dihadapkan pada gelombang besar pengangguran dan matinya industri bila krisis di Wall Street menjalar ke sektor produksi.

 

Di tengah kondisi seperti ini, jabatan presiden AS bagi Obama dan Partai Demokrat sangatlah sulit. Bahkan para pengamat politik mengatakan, realita pahit krisis ekonomi di negeri ini akan lebih nampak setelah hiruk pikuk kemenangan Obama mereda. Terlebih, para kandidat presiden AS dalam kampanye pemilu tahun ini bersaing sedemikian rupa sehingga harapan pada presiden mendatang AS telah mencapai puncaknya. Obama dalam kampanyenya hingga menjelang pelaksanaan pemilihan presiden, terus menjanjikan perubahan politik dalam dan luar negeri AS. Slogan perubahan inilah yang menyedot jutaaan warga AS untuk mendukung Partai Demokrat yang kemudian menghantarkan Obama ke Gedung Putih.

 

Namun setelah pelaksanaan pemilihan presiden, Obama kini membutuhkan dana yang besar dan waktu yang panjang untuk melakukan perubahan kebijakan, khususnya penangangan krisis di negeri ini. Sementara itu, dana tidak tersedia di kas negara. Kini, Obama dihadapkan pada defisit bujet ribuan milyar dolar, penurunan neraca perdagangan 800 milyar dolar AS dan hutang negara sebesar 11 trilyun dolar AS.

 

Para pengamat ekonomi berpendapat bahwa program penyelamatan ekonomi 700 milyar dolar AS tidak dapat mengakhiri krisis ekonomi terberat dalam 80 tahun terakahir ini. Berlanjutnya proses anjloknya saham Wall Street setelah ratifikasi dana penyelamatan ekonomi 700 milyar dolar AS mencerminkan fakta yang ada. Ternyata, kucuran dana sebesar itu belum bisa menyelesaikan problema ekonomi negara ini.

 

Di tengah kondisi sulit seperti ini, mampukah Obama menghadirkan janji-janjinya semasa kampanye, Change We Can Believe ?!!!


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: